BERAU TERKINI – Dinas Perkebunan Kabupaten Berau mendorong perluasan area tanam untuk meningkatkan produksi kopi sebagai komoditas unggulan.

Setelah kakao sukses menjadi salah satu komoditas unggulan sektor perkebunan, kini Pemkab Berau mulai mendorong pengembangan kopi sebagai potensi baru yang dinilai menjanjikan.

Meski masih dalam tahap awal, Dinas Perkebunan Berau menegaskan komitmennya untuk memperluas area tanam dan mendampingi petani yang berminat.

Kepala Dinas Perkebunan Berau, Lita Handini, mengatakan, kopi memiliki peluang besar untuk dikembangkan di wilayah Berau, terutama untuk jenis Liberika, yang cocok dengan kondisi tanah dan iklim daerah ini.

“Kopi di Berau sebenarnya cocok, hanya saja jumlah petaninya masih terbatas dan produksinya belum banyak. Karena permintaan pasar cukup tinggi, kami sedang mengidentifikasi petani yang berminat mengembangkan,” ujarnya.

Saat ini, luas lahan kopi di Berau baru mencapai sekitar 100 hektare, dengan potensi pengembangan terbesar di wilayah Sambakungan, Talisayan, dan Sambaliung.

Dari tiga wilayah tersebut, Sambakungan menjadi daerah dengan tanaman kopi paling banyak.

Namun, pengembangannya terkendala status lahan yang belum sesuai peruntukannya, sehingga belum bisa difasilitasi penuh oleh pemerintah.

“Kelompok tani di Sambakungan masih bersifat mandiri. Tapi karena lahannya belum legal secara peruntukan, kami belum bisa menyalurkan bantuan langsung,” ungkap Lita.

Meski masih menghadapi berbagai tantangan, Pemkab Berau terus menunjukkan komitmen serius.

Pada tahun ini, Pemkab Berau telah menyalurkan sekitar 2.000 bibit kopi ke wilayah Pesayan untuk membuka area tanam baru seluas tiga hektare.

Dinas Perkebunan juga menyiapkan bantuan teknis dan stimulan bagi petani yang siap mengembangkan komoditas ini.

“Selama petani berminat dan memiliki lahan yang legal, kami siap memberikan dukungan, mulai dari bibit, pupuk, hingga obat-obatan,” tambahnya.

Namun, Lita mengakui pengembangan kopi masih jauh untuk bisa disandingkan dengan kakao yang kini telah menjadi komoditas andalan daerah.

Minimnya petani lokal dan terbatasnya produksi menjadi tantangan utama dalam membangun rantai pasok kopi yang kuat.

“Masih jauh lah kalau dibandingkan dengan kakao. Tapi karena daya serap kopi bagus, kami berharap pelan-pelan bisa tumbuh sejajar,” tuturnya.

Dengan dukungan kebijakan dan kemauan petani lokal, kopi diyakini bisa menjadi komoditas masa depan setelah kakao.

“Kami ingin kopi menjadi komoditas unggulan baru di Berau, menyusul keberhasilan kakao yang sudah lebih dulu berkembang,” pungkasnya. (*/Adv)