BERAU TERKINI – Dibutuhkan riset varietas agar beras lokal Berau memiliki kualitas yang baik dan bisa bersaing di pasar.
Persoalan utama beras lokal bukan hanya pada ketentuan Harga Eceran Tertinggi (HET), tetapi pada daya saing varietas padi yang belum mampu menghasilkan rendemen tinggi.
Kondisi ini membuat harga jual beras lokal sulit bersaing di pasar modern, meski mutu sebenarnya cukup layak.
Kepala Dinas Pangan Berau, Rakhmadi Pasarakan, menjelaskan bahwa kualitas beras lokal saat ini berada pada level medium.
Namun dengan rendemen sekitar 50 persen, harga akhirnya tidak mampu mengejar batas HET yang ditetapkan pemerintah.
āDari GKP Rp6.500, setelah dihitung rendemen 50 persen saja sudah sekitar Rp13.000. Belum biaya pengolahan lain. Jadi sulit masuk HET Rp14.000 untuk kategori medium,ā jelasnya.
Kondisi tersebut membuat petani lebih memilih menjual gabah ke Bulog karena margin keuntungannya lebih besar. Beras lokal pun kehilangan peluang masuk pasar modern yang memiliki aturan HET lebih ketat dibandingkan pasar tradisional.
Rakhmadi menilai, titik persoalan sebenarnya berada pada ketidakunggulan varietas padi yang ditanam petani, baik dari sisi berat gabah, kualitas beras, maupun durasi panen.

Ia mencontohkan beberapa daerah di Jawa Barat yang sudah menerapkan penelitian khusus untuk menentukan varietas terbaik yang menghasilkan rendemen tinggi.
āAda daerah yang diteliti jenis beras apa yang paling unggul. Dari kualitas, berat, atau cepat panennya. Ini yang saya pikir perlu dilakukan di Berau,ā ujarnya.
Menurutnya, tanpa riset varietas, tingkat rendemen tidak akan meningkat, sehingga harga beras lokal akan terus berada dalam tekanan dan petani tetap bergantung pada penjualan gabah.
Untuk mengatasi masalah daya saing, Dinas Pangan mendorong program pembinaan dari hulu ke hilir, mulai dari pascapanen hingga perbaikan kualitas bibit.
Kerja sama dengan lembaga penelitian dianggap penting agar Berau memiliki varietas padi yang sesuai dengan kondisi agroklimat daerah dan memiliki nilai jual tinggi.
Meski pemeriksaan lapangan menemukan pedagang yang menjual sesuai HET, keuntungannya dinilai sangat kecil. Sementara pasar modern tidak memberi ruang bagi beras yang tidak memenuhi standardisasi harga.
āIni bisa jadi langkah ke depan untuk beras lokal Berau. Jika varietasnya unggul, rendemen naik, harga bisa bersaing,ā tegasnya.(*)
