BERAU TERKINI – Warga Kampung Biatan Lempake, Kecamatan Biatan, dibuat geger oleh dugaan penyelewengan Dana Kampung yang menyeret nama Sekretaris Kampung berinisial F.
Jumlah dana yang diduga digelapkan mencapai Rp1,3 miliar. Saat diperiksa, dana yang tersisa hanya Rp5 juta di rekening kampung.
Kasus ini terungkap ketika pihak kampung bersama kecamatan melakukan pengecekan terkait keterlambatan pembayaran gaji aparatur serta sejumlah program pembangunan.
“Setelah kami cek bersama pihak kecamatan, dana yang tersisa hanya Rp5 juta. Padahal, total yang dikelola sekitar Rp1,3 miliar,” ungkap Kepala Kampung Biatan Lempake, Darwis.
Menurut Darwis, dana sekitar Rp350 juta sempat dikembalikan oleh Sekretaris F.
Namun, sisanya yang hampir Rp900 juta hingga kini belum bisa dipertanggungjawabkan.
Lebih parah lagi, dugaan muncul bahwa dana kampung tersebut digunakan untuk aktivitas perjudian berbasis saham atau investasi digital. Informasi itu didapat dari pihak keluarga istri Sekretaris F.
Darwis menjelaskan, Sekretaris F menggunakan modus dengan menggandakan rekomendasi pencairan dana tanpa sepengetahuan kepala kampung maupun kecamatan.
Selain itu, buku rekening kampung juga dipegang sendiri olehnya dan tidak pernah diberikan kepada bendahara meski berkali-kali diminta.
“Awalnya kami tahu ketika hendak mencairkan dana untuk karang taruna, expo, sekaligus gaji aparatur. Dari situ baru ketahuan ada yang janggal,” beber Darwis.
Akibat dugaan penyelewengan ini, sejumlah program kampung terbengkalai.
Gaji aparatur desa dan petugas posyandu belum dibayarkan sejak Juni. Bantuan untuk warga lanjut usia (lansia) juga tertunda selama tiga bulan terakhir.
“Posyandu dari bulan Juni belum terima gaji, total sekitar Rp32 juta. Bantuan lansia biasanya Rp500 ribu per orang untuk 12 penerima, juga belum disalurkan,” jelas Darwis.
Tak hanya itu, sejumlah proyek pembangunan pun macet. Sebab, pembayaran kepada pihak ketiga hanya diberikan panjar tanpa pelunasan.
Saat ini, Sekretaris F tidak pernah masuk kantor dan nomor teleponnya tidak aktif.
Beredar kabar simpang siur bahwa ia berada di luar daerah atau sudah menyerahkan diri ke polisi, namun tidak ada kepastian.
“Kami juga tidak tahu keberadaannya. Ada yang bilang di Tanjung Redeb, tapi tidak jelas,” kata Darwis.
Awalnya, pihak kampung tidak melaporkan kasus ini karena ada itikad baik dari F untuk mengembalikan dana.
Namun, karena keberadaannya kini tidak jelas, laporan resmi akan segera dilakukan. (*)
