BERAU TERKINI – Sebanyak 110 anak teridentifikasi merencanakan aksi teror, Densus 88 Antiteror ungkap pola perekrutan.

Densus 88 Antiteror menyampaikan pihaknya melakukan sejumlah penindakan hukum mencegah aksi teror.

Jubir Densus 88 Antiteror AKBP Mayndra Eka Wardhana mengatakan ada 110 anak yang teridentifikasi akan melakukan aksi teror.

Jubir Densus 88 Antiteror AKBP Mayndra Eka Wardhana (YouTube/TV Radio Polri)
Jubir Densus 88 Antiteror AKBP Mayndra Eka Wardhana (YouTube/TV Radio Polri)

Jumlah tersebut adalah tahun 2025 saja, di mana angka itu lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.

“Di tahun 2025 sendiri, kurang lebih lebih dari 110 yang saat ini sedang teridentifikasi,” kata AKBP Mayndra Eka Wardhana, Selasa (18/11/2025) dikutip dari siaran langsung YouTube TV Radio Polri.

Menurutnya, ada pihak yang secara aktif dan masif melakukan perekrutan dengan sasaran usia anak.

“Jadi artinya kita bisa sama-sama menyimpulkan bahwa ada proses yang sangat masif sekali rekrutmen yang dilakukan melalui media daring,” katanya.

Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Trunoyudo Wisnu Andiko (YouTube/TV Radio Polri)
Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Trunoyudo Wisnu Andiko (YouTube/TV Radio Polri)

Sementara itu, Karopenmas Divhumas Mabes Polri Brigjen Trunoyudo Wisnu Andiko mengatakan ratusan anak yang teridentifikasi merencanakan aksi teror tersebar di sejumlah provinsi di Indonesia.

“Yang pertama, intervensi terhadap anak teradikalisasi yang berniat melakukan aksi teror di Banten pada akhir tahun 2024. Yang kedua, intervensi terhadap anak teradikalisasi yang berniat melakukan aksi teror di Bali dan Sulawesi Selatan pada bulan Mei 2025,” ujarnya.

“Kemudian, intervensi terhadap 29 anak di 17 provinsi yang berniat melakukan akso teror pada September 2025. Lalu, intervensi anak yang berniat melakukan aksi teror di Jawa Tengah pada Oktober 2025,” sambungnya.

“Dan kelima, intervensi terhadap 78 anak di 23 provinsi teradikalisasi yang berniat melakukan aksi teror pada 18 November 2025. Wilayah terbesar mengikuti Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur,” jelasnya.

Brigjen Trunoyudo Wisnu Andiko menjelaskan, perekrutan anak untuk melakukan aksi teror menggunakan berbagai macam cara.

Salah satunya lewat ajakan di media sosial hingga menggunakan game online.

“Adapun modus penyebaran, propaganda dilakukan secara bertahap. Propaganda pada awalnya didisiminasi melalui platform yang lebih terbuka seperti FB, Instagram, dan game online,” ucapnya.

“Kemudian setelahnya mereka yang dianggap target potensial akan dihubungi secara pribadi atau japri. Melalui platform yang lebih tertutup seperti WhatsApp atau Telegram,” katanya.