BERAU TERKINI – Ketua Komisi II DPRD Berau, Rudi Mangunsong, menyampaikan apresiasinya terhadap pelaksanaan Berau Fishing Tournament Bupati Cup 2025 di Pulau Derawan, akhir pekan lalu.
Setelah terakhir kali dilaksanakan pada 2019, event ini kembali menjadi ajang yang paling ditunggu para angler Berau.
Rudi mengatakan, meski dalam penyelenggaraan tahun ini masih terdapat sejumlah kekurangan serta riak protes dari peserta, namun hal itu tidak mengurangi antusiasme ratusan pemancing yang berpartisipasi.
“Namanya pertandingan, tentu ada aturan main. Ini baru event pertama setelah lama vakum. Peserta juga mungkin kaget dengan sejumlah peraturan yang diterapkan, sehingga menimbulkan kekecewaan,” ujarnya, Senin (17/11/2025).
Sebagai penghobi mancing, Rudi berharap ke depan konsep penyelenggaraan dapat dibuat lebih baik.
Hal ini mengingat event ini tak melulu soal soal memanjakan hobi angler, tapi lebih mempromosikan wisata bahari yang dimiliki Berau.
“Lomba mancing ini lebih kepada sport tourism. Kami ingin sesuai dengan komitmennya Bupati Berau, ini bisa digelar rutin setahun sekali,” jelasnya.
Ia menekankan pentingnya standar keselamatan kapal yang digunakan peserta, termasuk perlengkapan safety dan navigasi yang memadai.
Panitia, kata dia, juga dapat bekerja sama dengan pemilik kapal untuk melengkapi armadanya dengan standar keamanan yang baik.
“Ini penting, untuk menjaga keselamatan dan keamanan para peserta. Dan ini bukan hanya untuk event tahunan, tapi juga untuk kapal-kapal yang membuka jasa trip mancing,” jelasnya.
Menurutnya, jika nelayan memiliki kapal yang layak dan aman, hal itu justru dapat menjadi peluang peningkatan pendapatan.
Apalagi, setiap akhir pekan, bahkan mungkin setiap hari, banyak penghobi mancing menyewa kapal untuk memancing.
“Biasanya disewa dengan jutaan rupiah, meskipun tidak bermalam, tentu jadi tambahan bagi nelayan sekaligus menunjang hobi para pemancing,” jelas Rudi.
Selain soal penyelenggaraan, ia juga menyoroti menurunnya kualitas hasil tangkapan para peserta dari tahun ke tahun.
Dari pengamatannya, kondisi tersebut menunjukkan adanya indikasi berkurangnya sumber daya ikan di wilayah perairan Berau.
“Kita lihat langsung kemarin, jumlah tangkapan jauh menurun dibanding beberapa tahun lalu. Padahal pemancing telah menggunakan teknologi yang cukup canggih,” katanya.
Rudi menduga, penurunan itu tidak lepas dari praktik penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan.
Ia pun meminta pemerintah daerah, dinas terkait, hingga aparat penegak hukum, meningkatkan pengawasan dan edukasi terkait pelestarian laut.
“Ini menunjukan ada sesuatu yang terjadi di laut kita. Bisa karena teknik tangkap yang merusak atau aktivitas illegal fishing. Kami minta semua pihak ikut mengontrol agar penangkapan ikan lebih ramah lingkungan,” tegasnya.
Ia berharap turnamen mancing di Berau tidak hanya menjadi ajang kompetisi.
Tetapi, jadi momentum untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga keberlanjutan ekosistem laut. (*/Adv)
