TANJUNG REDEB – Bermula dari keisengan belajar fotografi, Renata Andini Pangesti tak menyangka akan melahirkan brand aksesoris yang kini dikenal sebagai Madamara.

Brand yang mulai berjalan sejak 2021 ini telah tumbuh menjadi wadah kreatif yang bukan hanya menjual produk, tapi juga menggerakkan komunitas melalui kelas-kelas kerajinan tangan di Berau.

Nama Madamara merupakan perpaduan dari kata “Mada” yang terinspirasi dari tokoh Gajah Mada, simbol keteguhan dan jasa besar. Serta kata “Asmara” yang berarti keindahan.

“Filosofi ini yang saya ambil untuk mencerminkan semangat Madamara,” kata Renata kepada Berauterkini, Kamis (17/7/2025).

Perempuan berambut panjang itu memulai Madamara dengan menjual aksesoris berbahan alloy yang saat itu tidak premium. Niat awalnya hanyalah untuk belajar foto menggunakan kamera DSLR.

Karena jumlah barang yang cukup banyak, akhirnya Renata mencoba menjualnya lewat media sosial. Tak disangka, dalam waktu kurang dari satu minggu, semua produk habis terjual berkat dukungan teman-temannya.

“Jadi barang-barang yang aku beli untuk dijadikan objek foto itu akhirnya numpuk. Nah, kepikiran deh untuk dijual saja,” ungkapnya.

Namun, perjalanannya tidak selalu mulus. Renata sempat ragu ketika melihat banyaknya penjual aksesoris lain, apakah Madamara bisa bertahan. Namun, keraguan itu justru menjadi titik balik.

Wanita 28 tahun itu mulai berkomitmen untuk hanya menjual produk dengan bahan premium, anti karat, dan handmade.

Kini, Madamara dikenal dengan produk berkualitas dengan harga terjangkau berkisar Rp30.000-100.000.

“Karena banyak yang minat dan bertanya apakah bahannya mudah luntur, akhirnya aku mencari yang bahannya lebih premium dan tidak mudah luntur,” tuturnya.

Tak hanya fokus pada penjualan, pada Desember 2023, Madamara menggelar workshop pertamanya. Sebelumnya, Renata sempat merasa kurang percaya diri untuk mengajar.

Namun, ketika bertemu Amnil Izza yang juga memiliki minat di dunia kerajinan, mereka berhasil membuka kelas bersama. Dari hanya menargetkan 10 peserta, workshop tersebut justru diikuti 18 orang.

Hingga pertengahan 2025, Madamara telah menggelar empat kali workshop dengan tema berbeda, seperti membuat gelang, strap phone, hingga bag charm hasil kolaborasi dengan komunitas Saturday Market dan Teman Kartini.

Workshop kelima pun sudah dalam tahap persiapan.

“Pencapaian terbesar bukan soal materi, tapi ketika bisa duduk bersama orang-orang yang awalnya tidak kita kenal, lalu bersama-sama membuat sesuatu yang kita sukai. Itu luar biasa,” ungkap lulusan MMTC Yogyakarta itu.

Omzet Madamara saat ini pun sudah menyentuh angka di atas Rp3 juta per bulan. Di balik itu, Renata tetap mengakui tantangan terbesar adalah mengatur waktu dan menjaga konsistensi.

“Tapi aku bersyukur karena usaha ini bisa membawa banyak teman baru dan penghasilan tambahan,” tambahnya.

Madamara juga aktif dalam bazar dan kolaborasi komunitas, termasuk yang terbaru pada ajang Berau Youthphoria 2025.

Sebagai pelaku usaha kreatif muda, Renata berharap pemerintah daerah, khususnya Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Berau, bisa lebih banyak membuka ruang, pelatihan, dan pendampingan bagi UMKM kreatif.

“Agar produk handmade seperti ini tidak dianggap mahal, masyarakat perlu diedukasi tentang proses dan nilai karya lokal,” tutupnya. (*/Adv)