BERAU TERKINI – Pendapatan petani jagung di Kampung Sumber Mulya, Talisayan, diprediksi meningkat usai menerima bantuan alsintan berupa corn combine harvester.
Pemkab Berau belum lama ini memberikan bantuan alsintan berupa satu unit corn combine harvester untuk petani di Kampung Sumber Mulya, Kecamatan Talisayan, Berau.
Dengan menggunakan alsintan corn combine harvester, diprediksi dapat meningkatkan pendapatan petani jagung hingga 25 persen.
Hal itu diungkapkan Kepala Kampung Sumber Mulya, Simun. Ia mengatakan bahwa alat itu sangat membantu para petani dalam proses panen jagung yang selama ini masih dilakukan secara manual.
Simun menuturkan, dengan alsintan corn combine harvester maka proses panen menjadi lebih cepat, efisien, dan mengurangi kerusakan hasil panen.
“Jadi saya prediksi dengan adanya alat corn combine harvester dari Pemkab Berau, pendapatan petani tentu bisa meningkat 20-25 persen. Karena kalau pakai cara manual, biasanya satu hektare itu mengupahkan untuk orang yang memetik jagungnya itu sampai Rp 1,5 juta,” jelas Simun saat dihubungi Berauterkini.co.id, Jumat (29/8/2025).
Kehadiran corn combine harvester juga akan menghemat pengeluaran para petani jagung.
Pasalnya jika menggunakan cara manual, maka petani jagung perlu membayar upah orang-orang yang membantu untuk mengangkut jagung hasil panen ke dalam mobil sayur.
Di mana, setiap kali panen, petani jagung mengeluarkan uang setidaknya sebesar Rp 2 juta untuk membayar upah tersebut.
“Tapi kan kalau sudah pakai alat corn combine harvester ini mereka tidak perlu lagi mengeluarkan biaya Rp 1,5 juta untuk memberi upah kepada mereka yang memetik jagung, karena alat ini langsung ke lahan, begitu alatnya kerja, langsung jadi berupa jagung pipilan,” ungkapnya.

Adapun alat panen jagung tersebut disalurkan oleh Pemkab Berau pada beberapa hari yang lalu, sebagai bagian dari program peningkatan produktivitas pertanian jagung di wilayah pesisir dan pedalaman.
Kampung Sumber Mulya menjadi salah satu penerima karena memiliki lahan pertanian jagung yang cukup luas dan aktif. Simun menyebut, setiap kali panen, kampungnya bisa menhasilkan jagung hingga 4 ton untuk satu hektare lahan.
Lebih lanjut, Simun menilai bahwa selama ini petani jagung kerap mengalami keterlambatan panen akibat keterbatasan tenaga kerja dan alat. Hal ini berdampak pada penurunan kualitas dan harga jual jagung di pasar.
“Kalau panennya terlambat, jagung bisa rusak karena terlalu lama di ladang. Dengan mesin ini, panen bisa dilakukan lebih cepat dan tepat waktu,” tambahnya.
Petani setempat juga menyambut baik bantuan tersebut. Selain mempercepat proses panen, mereka berharap dukungan seperti ini bisa berlanjut dalam bentuk pelatihan pengoperasian alat dan akses ke pasar yang lebih luas.
Simun berharap, dengan adanya bantuan corn combine harvester para petani bisa lebih sejahtera. Ia juga terus mengingatkan kepada pengurus Gapoktan Sumber Mulya untuk menjaga dan merawat alat tersebut dengan sebaik-baiknya.
“Saya juga sudab memberikan masukan kepada para petani untuk membuat uang kas, sehingga jika alat tersebut sewaktu-waktu rusak dapat diperbaiki. Sehingga tidak terjadi seperti tahun tahun yang lalu, banyak bantuan Alsintan yang terbengkalai,” tegasnya.
Kendati begitu, ia menuturkan bahwa masih terdapat salag satu kendala yaitu, Kampung Sumber Mulya hanya memiliki satu unit vertical dryer atau alat pengering jagung yang dibeli menggunakan uang kas dari masyakarat. Sehingga saat adanya panen petani mengantre untuk mengeringkan jagungnya,” kata dia.
Dia pun berharap DTPHP Berau dapat memberikan bantuan alsintan lainnya berupa alat vertical drayer agar para petani tidak perlu mengantre lagi saat proses pengeringan jagung.
“Kami berharap ke depannya ada bantuan dari dinas berupa vertical drayer, supaya nanti pada panen jagung raya tidak antre saat mau mengeringkan jagung,” pungkasnya.
Sebagai informasi, produksi jagung di Kampung Sumber Mulya pada Juli 2025 pasca panen yakni sebesar 20 ton, dan saat ini jumlahnya sudah mencapai 35 ton.
