BERAU TERKINI – Potensi destinasi wisata Danau Tulung Ni Lenggo atau yang dikenal sebagai Telaga Biru sedang menjadi incaran pengusaha lokal untuk investasi di sektor pariwisata.
Penjajakan ini membuka peluang pengelolaan Telaga Biru oleh pihak ketiga, namun memicu diskusi mengenai syarat dan ketentuan kontrak yang ketat.
Kepala Kampung Tembudan, Zainuddin Rahim, mengonfirmasi, penjajakan dengan pihak investor sudah berlangsung selama dua bulan terakhir.
Rencananya, pihak ketiga akan mengelola penuh dan menambah berbagai wahana baru di Danau Tulung Ni Lenggo.
Zainuddin menekankan, proses kerja sama ini akan dimatangkan melalui Memorandum of Understanding (MoU) yang akan dikoreksi bersama.
Zainuddin mengungkapkan, pihak investor mengajukan waktu pengelolaan selama 25 tahun.
Namun, durasi ini dinilai terlalu lama oleh kampung dan akan menjadi poin koreksi utama dalam pembahasan MoU.
Selain durasi kontrak, pihak kampung juga menuntut dua syarat utama untuk melindungi kepentingan lokal.
Pertama, pemasukan ke pemerintah kampung tidak boleh flat (tetap) selama kontrak berjalan dan harus ada mekanisme peningkatan pendapatan.
Kedua, sekitar 80 persen karyawan yang direkrut nantinya harus berasal dari warga lokal.
Saat ini, pendapatan bersih kampung dari objek wisata Danau Tulung Ni Lenggo berada di kisaran Rp 30-37 juta per tahun, setelah dikurangi biaya operasional dan gaji karyawan.
Wakil Bupati Berau, Gamalis, menyambut baik rencana pengelolaan Danau Tulung Ni Lenggo oleh pihak ketiga.
Ia mengakui, objek wisata yang dikelola secara profesional oleh investor cenderung lebih bagus.
Hal ini juga dapat menjadi opsi untuk meningkatkan Pendapatan Asli Kampung (PAK).
“Syukurlah kalau ada investor yang mau masuk. Tapi tetap harus kita lihat untung ruginya dan kekurangan kelebihannya investor tersebut,” ujar Gamalis.
Meskipun mendukung, Gamalis memberikan beberapa penekanan penting yang harus dipatuhi.
Pertama, daerah-daerah inti di dalam objek wisata tidak boleh diubah atau diganggu, karena Danau Tulung Ni Lenggo bukan hanya destinasi natural, tetapi juga sumber air minum bagi masyarakat setempat.
Kedua, Gamalis sependapat, mayoritas pekerja nantinya harus berasal dari masyarakat lokal.
Ketiga, aspek keamanan dan kenyamanan pengunjung harus diutamakan dan dijaga.
“Kalau memungkinkan itu semua (memenuhi syarat dan menguntungkan), kenapa tidak kita kerja samakan?” pungkasnya. (*)
