BERAU TERKINI – Pemkab Berau yakni Dinas Damkar Berau mengaku kewalahan antisipasi serangan buaya, ini kendalanya.

Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Berau masih kesulitan menghadapi berbagai kendala dalam penanganan, dan pencegahan serangan buaya terhadap manusia yang belakangan semakin sering terjadi.

Kepala Bidang Pemadaman dan Penyelamatan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Berau, Nofian Hidayat, mengatakan, meskipun pihaknya kerap turun membantu di lapangan, keterbatasan kewenangan menjadi hambatan utama dalam penanganan konflik satwa liar tersebut.

“Penanganan buaya ini bukan lagi kewenangan pemerintah kabupaten sepenuhnya. Tapi, kami tetap membantu di lapangan karena menyangkut keselamatan masyarakat,” ujarnya, Senin (23/3/2026).

Ia menjelaskan, perubahan kewenangan tersebut merujuk pada Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2024 yang merupakan revisi dari Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Dalam aturan terbaru, penanganan konflik buaya muara, kini menjadi tanggung jawab Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), yang di daerah dilaksanakan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Kaltim.

Warga Berau menjadi korban serangan buaya (Ist)
Warga Berau menjadi korban serangan buaya (Ist)

Sebelumnya, kewenangan itu berada di bawah Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) yang merupakan bagian dari Kementerian Kehutanan.

Nofian mengungkapkan, hingga saat ini belum terdapat tim ranger atau tim reaksi cepat dari KKP, yang ditempatkan di wilayah Kabupaten Berau. Selain itu, ketiadaan penangkaran resmi buaya milik pemerintah, juga memperumit upaya evakuasi dan penanganan.

“Belum ada tim ranger KKP di Berau, dan kita juga belum punya penangkaran resmi untuk buaya. Ini yang jadi kendala besar saat penanganan di lapangan,” jelasnya.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa pihaknya tetap bersinergi dengan berbagai instansi, seperti TNI, Polri, serta BKSDA Berau, untuk merespons setiap laporan masyarakat terkait kemunculan buaya.

Menurutnya, potensi konflik antara manusia dan buaya di Berau semakin tinggi, seiring dengan meningkatnya populasi buaya di sejumlah wilayah. Khususnya di daerah aliran Sungai Kelay dan Sungai Segah.

“Kondisi ini sangat berisiko, karena habitat buaya semakin banyak di wilayah sungai yang juga digunakan masyarakat untuk beraktivitas,” pungkasnya.

Warga Berau Kembali Jadi Korban

Sebelumnya diberitakan, seorang warga di Tanjung Redeb Berau menjadi korban serangan buaya.

Insiden mengejutkan terjadi di kawasan permukiman warga Jalan Karang Mulyo, RT 14, Gang Ikhlas, Kecamatan Tanjung Redeb, Berah, Minggu (22/3/2026) kemarin.

Seorang warga dilaporkan menjadi korban gigitan buaya saat tengah memperbaiki pipa air di sekitar tepi sungai.

Kejadian tersebut sontak menggegerkan warga sekitar, terutama masyarakat yang tinggal di bantaran sungai. Kemunculan predator liar di area permukiman, dinilai semakin meresahkan dan meningkatkan kewaspadaan warga.

Kepala Bidang Pemadaman dan Penyelamatan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Berau, Nofian Hidayat, mengungkapkan, saat diterkam buaya, korban berhasil menyelamatkan diri, dan segera dievakuasi oleh warga sesaat setelah kejadian.

“Korban kemudian dilarikan ke RSUD Abdul Rivai dan saat ini masih menjalani pemeriksaan serta perawatan intensif,” katanya.

Peristiwa ini menjadi peringatan serius bagi masyarakat, khususnya yang bermukim di sekitar aliran sungai.

Diduga, lokasi kejadian yang dekat dengan habitat alami buaya menjadi salah satu faktor kemunculan hewan tersebut ke wilayah pemukiman.

Warga diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan saat beraktivitas di sekitar sungai.

“Orang tua juga diminta lebih memperhatikan anak-anak agar tidak bermain di sekitar tepi yang berpotensi membahayakan,” pungkasnya.