TANJUNG REDEB – Banyak permasalahan yang dihadapi masyarakat di Pulau Maratua. Salah satunya adalah kurangnya jumlah bahan bakar minyak (BBM), khususnya Pertalite.

Meskipun sudah ada Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN), namun kuotanya tidak mencukupi.

Camat Maratua, Ariyanto, menjelaskan, SPBN yang memasok BBM bagi nelayan hanya bertahan selama dua hari. Sedangkan, masyarakat yang tidak berprofesi sebagai nelayan agak kesulitan memperoleh BBM ini.

“Stoknya tidak mencukupi. Kalau datang dari Tarakan itu Pertalite dua hari saja sudah habis. Kalau bisa jangan hanya dihitung dari nelayannya, tapi juga kebutuhan masyarakat di seluruh kampung di Kecamatan Maratua,” terang Ariyanto saat menghadiri rapat pembahasan LPG dan BBM bersama Diskoperindag Berau beberapa hari lalu.

Ariyanto berharap, jika nantinya ada penambahan SPBN atau SPBU yang beroperasi di Pulau Maratua, setidaknya bisa mencukupi kebutuhan nelayan dan masyarakat selama seminggu hingga sepuluh hari.

“Kami sudah berencana bersama pengusaha untuk bisa dilakukan penambahan SPBU ini, tapi ternyata aturannya hanya bisa 1 SPBU di 1 kecamatan. Tapi yang kami lihat di Tanjung Redeb bisa lebih dari satu. Nah, ini yang kami perlu penjelasan,” tambahnya.

Penambahan SPBU itu akan bisa dibagi untuk dua wilayah. Satu SPBU melayani Kampung Payung-Payung dan Kampung Bohe Silian. Sedangkan, SPBU lainnya melayani Kampung Teluk harapan dan Kampung Teluk Alulu.

Kepala Diskoperindag Berau, Eva Yunita, mengatakan, hal ini akan diusulkan ke Pertamina. Namun, jika mengikuti aturan yang ada, penambahan SPBN atau SPBU itu tidak memungkinkan.

“Tapi bisa saja dibangun Pertashop yang melayani BBM bukan bersubsidi. Ini menjadi solusi sementara yang bisa ditempuh. Karena untuk penambahan kuota Pertalite di Maratua tidak memungkinkan di tahun ini,” terangnya. (Adv/Aya)