TANJUNG REDEB – Limbah daun ternyata memiliki manfaat lain, di tangan Roly Evanali limbah daun diubah menjadi produk ecoprint bernilai ekonomi.

Dari tangan kreatif Roly Evanali, daun-daun yang biasanya hanya dianggap sampah alam disulap menjadi karya seni bernilai tinggi. Teknik yang digunakan disebut ecoprint atau seni mencetak daun langsung ke kain dengan memanfaatkan pewarnaan alami.

Roly mulai mendalami ecoprint sejak 2023. Baginya, teknik ini unik karena ramah lingkungan dan bahan-bahannya tersedia di sekitar.

“Hasilnya luar biasa. Bayangkan, daun-daun dari alam bisa tercetak indah di kain, bahkan bernilai jual tinggi,” tuturnya.

Dikatakannya untuk ecoprint ternyata lebih banyak peminatnya dari luar negeri. Wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Berau sangat tertarik pada ecoprint dan batik warna alam.

Hal ini memotivasi Roly untuk mengembangkan ecoprint sekaligus memadukannya dengan batik.

“Memang ecoprint bukan batik. Kalau batik harus ada malam panas sebagai penggores motif. Ekoprint itu seni mencetak daun dengan warna alam,” jelasnya.

Tidak hanya lembaran kain, Roly sudah mengaplikasikan ekoprint ke berbagai produk fesyen.

Mulai dari tas, sepatu, topi, hingga pakaian, semuanya dihiasi motif alami yang tercetak langsung dari daun. Setiap produk menjadi unik karena hasil cetakan daun tidak pernah sama.

“Misalnya ada dua orang pesan dengan daun dan warna yang sama, hasilnya tetap berbeda. Itu yang saya suka dari ecoprint, selalu one of a kind,” ujarnya.

Awalnya, Roly tidak langsung berhasil. Ia mencoba sepuluh kali sebelum menemukan formula yang tepat. Prosesnya pun dibantu dengan sharing bersama komunitas ecoprint Indonesia.

Kunci ketahanan warna ada pada proses mordan, yaitu treatment kain dengan zat alkali agar tanin dari daun menempel kuat. Jenis kain yang digunakan juga tidak bisa sembarangan.

Roly Evanali saat menunjukkan hasil karya dari teknik ecoprint. (Dini Diva Aprilia/BT)
Roly Evanali saat menunjukkan hasil karya dari teknik ecoprint. (Dini Diva Aprilia/BT)

“Kainnya berbahan serat alam seperti sutra, rayon, atau linen karena bisa menangkap warna dengan lebih tajam dibandingkan katun,” tambahnya.

Salah satu ciri khas karya Roly adalah penggunaan daun singkil. Tanaman ini banyak dijadikan sayur oleh masyarakat lokal, tetapi ternyata juga meninggalkan jejak indah ketika digunakan dalam ekoprint.

“Kalau daerah lain biasanya pakai daun jati, jarak, atau singkong. Di Berau, saya menonjolkan daun singkil sebagai identitas,” pungkasnya.(*)