BERAU TERKINI – Di Kampung Merasa, Kecamatan Kelay, aroma manis madu hutan menandai datangnya musim panen.

Setahun sekali, antara Oktober hingga November, warga kampung ini menantang bahaya demi tetesan emas alami yang menggantung di pucuk pohon manggris.

Pohon raksasa yang tingginya bisa mencapai lebih dari 40 meter.

Bagi warga Merasa, panen madu bukan sekadar pekerjaan musiman, melainkan warisan leluhur yang sarat keberanian dan kebersamaan.

Tokoh masyarakat yang juga mantan Kepala Kampung Merasa, Yafet, bercerita, panen madu dilakukan secara turun-temurun yang hingga kini tetap menjadi sumber penghidupan utama bagi banyak keluarga.

“Setahun sekali kami panen madu. Biasanya di bulan gelap, karena lebah lebih tenang,” ujarnya, Minggu (9/11/2025).

Namun di balik senyum itu, tersimpan risiko besar. Para pemanjat harus mendaki batang manggris yang licin dan tinggi menjulang. Hanya dengan bantuan tali dan alat panjat sederhana.

Dahulu, para tetua menggunakan rotan untuk memanjat. Kini, diganti dengan alat panjat tebing modern. 

Kendati peralatan berubah, generasi berlanjut, keberanian mereka tetap sama.

“Kami tidak pakai pakaian khusus. Sudah biasa disengat lebah. Rasanya sakit juga, tapi karena sudah biasa disengat rasanya hilang begitu saja,” ujarnya.

Dalam satu malam, pemanjat bisa menghasilkan hingga 200 liter madu dari satu pohon.

Tiap sarang lebah menghasilkan madu yang berbeda, tergantung ukuran dan lamanya terbentuk.

“Kalau sarangnya besar dan penuh, dua sarang bisa dapat 20 liter madu. Kadang satu pohon bisa sampai puluhan sarang,” terangnya.

Setelah diturunkan, madu segar langsung disaring oleh warga yang menunggu di bawah pohon.

Proses penyaringan dilakukan hati-hati agar kemurnian madu tetap terjaga.

Setelah itu, madu dikemas dalam botol air mineral berukuran 600 mililiter hingga 1,5 liter, dan siap dijual.

Harga madu hutan Merasa pun sebanding dengan perjuangan memanennya.

Untuk ukuran besar dibanderol Rp700 ribu per botol, sementara ukuran kecil sekitar Rp350 ribu.

Ada pula madu yang masih menyatu dengan sarang di dalam toples, dijual hingga Rp1,5 juta.

“Pembelinya bukan hanya dari Berau, tapi juga dari Samarinda dan Kaltara. Cukup diunggah di media sosial, pesanan langsung datang,” katanya bangga.

Menurut Yafet, berlimpahnya madu di Kampung Merasa tak lepas dari kondisi hutannya yang masih terjaga.

Tidak banyak aktivitas eksploitasi sehingga lebah hutan tetap betah bersarang di pepohonan tinggi.

Bahkan, pohon yang dihinggapi lebah, dilindungi dengan hukum adat. Siapa yang berani merusak denda adat menanti.

“Selama hutannya terpelihara, lebah tidak akan pergi. Panen madu ini juga jadi menambah ekonomi masyarakat, selain dari pertanian dan perkebunan,” ujar Yafet.

Madu hutan Merasa bukan sekadar komoditas bernilai tinggi, tapi juga simbol harmoni antara manusia dan alam.

“Kami anggap ini adalah warisan yang harus dijaga dari generasi ke generasi,” pungkasnya. (*)