BERAU TERKINI – Rani dan Berli pemilik Onnie’s Kitchen menceritakan suka duka mengembangkan usaha kuliner Korea di Berau.

Di balik ramainya tren kuliner Korea di media sosial, tidak semua pelaku usaha merasakan manisnya penjualan setiap hari.

Onnie’s Kitchen, usaha kuliner Korea halal di Berau, pernah berada di titik paling sepi sehari hanya menerima tiga pesanan.

Pemilik Onnie’s Kitchen, Rani, mengaku kondisi itu menjadi salah satu momen paling berat selama menjalankan usaha yang telah dirintis sejak 2017 tersebut.

“Pernah sehari cuma dapat tiga orderan. Itu pernah banget,” ujar Rani, mengenang masa-masa sulitnya.

Onnie’s Kitchen lahir dari ketertarikan Rani dan sang adik, Berli, terhadap makanan Korea. Usaha ini bermula pada 2017, saat Berli yang masih bersekolah di SMA Negeri 4 Berau mencoba membuat tteokbokki untuk kegiatan class meeting.

Respons positif dari teman-teman sekolah membuat mereka sesekali membuka pre order kecil-kecilan. Keseriusan baru dimulai ketika Rani kembali ke Berau pada 2019, usai menyelesaikan studi S1 Teknologi Pangan di Malang. Saat itu, belum ada penjual makanan Korea di Berau, apalagi yang menggunakan bahan-bahan halal.

“Di Malang sudah tren banget makanan Korea, tapi di Berau belum ada sama sekali. Dari situ saya pikir, kenapa tidak dicoba,” katanya.

Dari pemikiran tersebut, terbentuklah Onnie’s Kitchen, yang kemudian dikenal sebagai salah satu pionir makanan Korea di Berau sejak 2019.

Meski begitu, perjalanan usaha tidak langsung mulus. Selama 2019 hingga 2022, Onnie’s Kitchen hanya berjalan dengan sistem pre order seminggu sekali karena Rani masih bekerja di perusahaan.

Tantangan bertambah ketika pada 2022 ia hamil dan harus menghentikan produksi sementara, lantaran seluruh proses masih ditangani sendiri.

Usaha kembali berjalan perlahan hingga 2024, saat Rani mulai membuka pesanan setiap hari dari rumah. Permintaan pelanggan untuk bisa makan di tempat akhirnya mendorong Onnie’s Kitchen membuka ruang dine in sederhana dengan dukungan keluarga.

Namun, membuka setiap hari juga berarti siap menghadapi hari-hari sepi.

“Kalau lagi sepi, sehari bisa cuma lima sampai enam pelanggan. Bahkan pernah cuma tiga,” ungkap Rani.

Menurutnya, salah satu tantangan terbesar adalah harga bahan baku yang mahal, karena sebagian bumbu harus didatangkan dari luar daerah, bahkan impor. Hal itu membuat harga jual relatif lebih tinggi dibanding makanan lokal.

“Banyak yang ekspektasinya harga mahal itu porsinya harus besar dan rasanya langsung cocok. Padahal makanan Korea itu memang tidak semua orang bisa terima,” jelasnya.

Menu seperti kimchi, misalnya, kerap dianggap terlalu asing bagi sebagian pelanggan. Tak jarang Rani menerima kritik soal harga dan rasa. Meski demikian, ia memilih menjadikan kritik sebagai bahan evaluasi.

“Balik lagi ke selera. Ini memang bukan makanan untuk semua kalangan,” katanya.

Seiring berkembangnya usaha, Onnie’s Kitchen kini tidak hanya menjual makanan Korea siap santap. Rani juga mengembangkan produk hampers dan buket makanan Korea, yang banyak diminati untuk hadiah ulang tahun hingga perayaan tertentu.

Menu Onnie’s Kitchen (Ist)
Menu Onnie’s Kitchen (Ist)

Selain itu, Onnie’s Kitchen turut menjual merchandise K-pop, menyasar penggemar budaya Korea di Berau.

Dari sisi menu, terdapat dua hidangan yang menjadi best seller, yakni Paket Kimbab Chikin dan Paket Mukbang, yang kerap dipesan pelanggan, baik untuk makan di tempat maupun melalui layanan pesan antar.

Di sisi lain, Onnie’s Kitchen juga merasakan dukungan dari pelanggan setia, terutama anak muda yang penasaran mencoba kuliner baru.

Saat ramai, pesanan daring melalui GoFood dan GrabFood bisa mencapai lebih dari 20 orderan per hari. Namun, fluktuasi tetap terjadi, terutama di pertengahan bulan.

“Biasanya akhir bulan dan awal bulan lebih ramai. Kalau pertengahan, kelihatan banget turunnya,” ujar Rani.

Kini, Onnie’s Kitchen mempekerjakan tiga karyawan. Berli yang dulu aktif di dapur kini fokus mengembangkan konten promosi dan penjualan merchandise, sementara Rani tetap memegang kendali utama pada produksi makanan.

Dari sisi omzet, Rani mengaku di awal usaha pendapatan masih terbatas. Saat masih mengandalkan pre order, omzet per buka pesanan berkisar Rp1 sampai Rp 2 juta dan tidak rutin. Namun kini, setelah buka setiap hari, Onnie’s Kitchen mampu mencatat omzet dua digit per bulan.

Meski pernah berada di titik paling sepi, Rani memilih bertahan. Baginya, usaha ini bukan hanya soal omzet, tetapi juga konsistensi dan keyakinan bahwa pasar akan tumbuh seiring waktu.

“Kalau dibilang capek, pasti. Tapi sejauh ini masih dijalani,” tutupnya. (*)