BERAU TERKINI – Nuur Fauziyah mengembangkan FNBlooms, produk pernak-pernik yang terbuat dari kawat bulu.

Nama FNBlooms mungkin masih asing di sebagian orang. Namun, usaha itulah yang membawa Nuur Fauziyah membangun bisnis pernak pernik kawat bulu.

Nuur Fauziyah bercerita awal ia mengembangkan usaha pernak-pernik, ini dikarenakan dirinya suka hal-hal berupa kreativitas tangan.

“Karena aku tuh emang suka di ekonomi kreatif, karena aku juga tangannya tuh kayak orang yang nda bisa diam gitu, jadi aku suka makanya dan aku suka perintilan-perintilan yang lucu-lucu itu,” ungkapnya, Senin (12/1/2026).

Saat itu, ia baru saja lulus kuliah dan kembali ke Berau. Ia merasa belum ada yang menjual kreasi dari kawat bulu, sehingga ia mencoba untuk menjual dengan modal Rp 500 ribu.

“Karena memang dari pantauanku ini nda ada orang yang jual kawat bulu itu, mungkin ada, tapi jarang gitu. Nah aku cobalah awalnya aku modal 500 ribu,” jelasnya.

Namun, ternyata membuka bisnis dengan modal Rp 500 ribu tidak membuatnya untung, sehingga ia mengajak rekannya, Fridei untuk berkolaborasi.

Nama usaha mereka dibuat dari nama mereka sendiri, FNBlooms yang artinya Fridei Nuur Blooms. “‘Ayo lah kita collab’ jadi join-an Rp 500 ribu, awalnya tuh modalnya sejuta itu,” ujarnya.

Dari situlah ia mencoba usaha bisnis pernak-pernik yang kini sudah berjalan setahun hingga hari ini.

Ia mengaku keuntungan lebih baik dari sebelumnya dan tentunya bisa menutup modal. Pelanggan dari usahanya kebanyakan dipesan oleh anak SD untuk perpisahan. “Jadi sekolahnya bikinin acara, terus ke kami pesannya,” ucapnya.

Produk yang ia jual dari pernak pernik kawat besi bermacam-macam, mulai dari gantungan kunci, bucket, hiasan kulkas, hingga flowerpot.

Harga dipatok dari yang paling murah seharga Rp 5 ribu untuk gantungan kunci dan paling mahal ia pernah menerima request bucket seharga Rp 200 ribu.

Ia mengatakan bahwa bagian paling susah dari membuat kreasi kawat bulu adalah membuat bucket.

Hal itu dikarenakan kawat yang digunakan harus pas ukurannya, contoh membuat bunga per-kelopak, maka harus sama semua ukurannya.

“Kita pilih kelopaknya itu harus pas. Biasanya kan satu bunga itu ada yang 6 kelopak, ada yang 5 kelopak, nah harus pas itu dalam artian ukurannya itu harus sama,” ujarnya.

“Terus dia itu di twist harus diputar supaya dia ngunci si kawatnya itu. Nah itu juga part susah karena dia harus ngepasin tadi,” tambahnya.

Jika tidak pas, maka hasil bunganya akan terlihat tidak simetris. Bagian paling susah lainnya yaitu merangkai bucket.

“Jadi kan kalau kita mau wrapping si bucket ini kan harus dirangkai kan bunganya, nah dasarnya si kawat bulu ini kan kalau sudah dia jadi satu, jadi satu bunga itu kan keras kan dia,” ujarnya.

Produk FNBlooms, aksesoris yang terbuat dari kawat bulu (Ist)
Produk FNBlooms, aksesoris yang terbuat dari kawat bulu (Ist)

Menurutnya, terdapat banyak tantangan dalam mengembangkan usaha bisnis pernak-pernik mulai dari kesulitan bahan baku, proses produksi hingga pemasaran.

“Ada di sini tapi dia bukan yang kawat bulu premium, itu kan pengaruh juga nanti jadinya produknya,” katanya.

“Kawat bulu kaya lebih unik lah kalau menurutku, nah aku melihat peluangnya tuh disitu aku kira tuh bakal bakal banyak yang beli, banyak yang kaya ‘unik’, ternyata enggak juga. Tantangannya tuh di brandingnya gitu,” jelasnya.

Selain itu, tantangan berikutnya adalah lokasi usaha, sebab toko FNBlooms sendiri terletak di Kampung Sambakungan, Gunung Tabur.

Hal itu membuat belum banyak orang yang mengetahui usahanya, lantaran cakupannya hanya di sekitaran Kampung Sambakungan, Gunung Tabur, dan Merancang.

“Belum nyampe Tanjung, karena aku tuh mau nyampe Tanjung tuh kan harus ada ruangnya kan, harus ada wadahnya kan, di mana sih aku jual ini,” ujarnya.

Dirinya pun berharap, usahanya semakin dikenal banyak orang dan menjangkau daerah yang lebih luas tak hanya di sekitaran Gunung Tabur.

“Jadi setiap tahun misalnya SD sini setiap tahun tuh bisa udah nge-keep nih pesannya di kami, jadi kaya enak kan, tetap mutar, karena kita ada berharap di titik itu,” harapnya.