TANJUNG REDEB – Cerita Mochammad Shodik kembangkan batik Mosho, berawal dari tekanan ekonomi kini miliki omzet puluhan juta rupiah.

Di balik setiap helai kain batik yang indah, tersimpan kisah perjuangan dan ketekunan. Di Berau, Kaltim, kisah inspiratif itu lahir dari tangan seorang pria sederhana bernama Mochammad Shodik.

Ia bukan perajin batik sejak lahir, bukan pula keturunan pengusaha batik ternama. Namun justru dari tekanan ekonomi, ia menemukan jalan yang kemudian mengangkat namanya lewat sebuah karya seni bernama Batik Mosho.

Tahun 2018 menjadi awal perjalanan Mochammad Shodik dalam dunia industri kecil dan menengah. Saat itu, ia hanya bekerja sebagai tenaga kontrak di Diskoperindag Berau, tepatnya sebagai penyuluh industri.

Di balik tugasnya memberi bimbingan kepada para pelaku IKM, tersimpan kegelisahan pribadi yaitu, kebutuhan ekonomi yang makin mendesak, sementara pendapatannya sebagai tenaga kontrak belum mampu menutupi kebutuhan rumah tangga.

Cerita Mochammad Shodik kembangkan batik Mosho
Cerita Mochammad Shodik kembangkan batik Mosho (Nadya Zahira/BT)

“Jadi awalnya berdirinya Batik Mosho karena adanya kegelisahan, namanya kerja honorer ya begitu, sementara kebutuhan ekonomi terus mendesak,” kata Mochammad Shodik saat dihubungi, Minggu (24/8/2025).

“Dan di tahun 2018 itu, saya baca brosur ada lomba Cipta Motif Batik. Jadi saya berkeinginan untuk mengasah kemampuan saya, terutama kesukaan saya terhadap desain, karena kan saya suka gambar. Jadi saya ikut lombanya,” tambahnya.
 
Pilihan Mochammad Shodik bukan tanpa pertimbangan. Ia melihat celah yang belum digarap di Berau. Ketika itu, batik yang beredar di wilayah ini mayoritas adalah batik cap, di mana proses pembuatannya lebih cepat, namun nilai seninya cenderung lebih rendah dibanding batik tulis. Dari situ, ia mencoba membuat batik tulis pertama di Berau untuk dilombakan.

“Akhirnya saya mengikuti lomba batik itu, tapi dengan desain batik tulis, dan Alhamdulillah dapat juara. Dari situ saya mulai mencari lomba yang lainnya dan selalu menang. Sampai akhirnya saya menawarkan produk batik tulis saya ke teman-tamen kerja saya,” jelasnya.

Cerita Mochammad Shodik kembangkan batik Mosho
Cerita Mochammad Shodik kembangkan batik Mosho (Nadya Zahira/BT)

Dengan modal hanya Rp 500 ribu, Sodik membeli beberapa alat dasar, antara lain yakni, canting, kompor listrik untuk batik, kain mori, hingga pewarna.

Ia belajar secara otodidak, memanfaatkan YouTube dan pengalamannya saat kuliah. Asal tahu saja, Shodik merupakan lulusan mahasiswa Industri Tekstil, sehingga pada saat itu terdapat kelas untuk membuat batik tulis.

Lebih lanjut, Mochammad Shodik menyampaikan, saat awalnya menerima pesanan batik, di malam hari setelah tugasnya sebagai penyuluh beres, dia baru mulai melukis motif di atas kain, pelan-pelan, dan penuh ketelitian.

Batik Mosho: Motif Lokal, Sentuhan Nasional

Tak butuh waktu lama, karya Sodik mulai menarik perhatian. Keunikan motif yang ia angkat, seperti penyu, hutan, hingga simbol budaya Suku Dayak dan Kutai, membuat batik tulisnya berbeda.

Ia pun memberi nama usahanya, Batik Mosho, yang mana Mo artinya modern dan Sho berasal dari bahas Jepang yang artinya melejit terbang tinggi. Dengan begitu, Shodik berharap batiknya yang berdesain modern bisa dikenal banyak orang lagi.

“Motif yang saya buat tidak hanya indah, tapi juga bercerita. Setiap coretan mengandung filosofi lokal, menggambarkan kekayaan alam dan budaya Berau,” jelanya.

Koleksi batik Mosho karya Mochammad Shodik (Nadya Zahira/BT)

Batik Mosho tidak sekadar menjadi produk tekstil, tapi simbol kebanggaan lokal. Lambat laun, pesanan mulai datang dari instansi pemerintah, sekolah, bahkan wisatawan yang datang ke Berau.

Dalam waktu dua tahun, usahanya mulai tumbuh. Ia membuka pelatihan untuk ibu-ibu rumah tangga di sekitar rumahnya yang bekerja sama dengan Berau Coal. Pelatihan ini diharapkan agar mereka mendapatkan penghasilan tambahan.

Dari Rp 500 Ribu ke Rp 40 Juta Per Bulan

Kisah Batik Mosho tak hanya inspiratif secara budaya, tapi juga secara ekonomi. Dari modal kecil dan produksi rumahan, kini Batik Mosho mampu meraih omzet hingga Rp 40 juta per bulan. Produk-produknya telah merambah luar daerah, bahkan pernah dipesan untuk acara tingkat nasional.

“Kalau dulu hanya satu-dua kain seminggu, sekarang bisa sampai puluhan kain per bulan. Alhamdulillah, omzet sekarang bisa sampai Rp 40 juta,” ungkap Mochammad Sodik.

Selain itu, Shodik mengatakan bahwa hingga saat ini masih banyak pembeli yang memesan batik tulis meski harganya mahal sekitar Rp 700.000 – Rp 1.500.000. Namun, dia bilang, bagi para pembeli yang juga tertarik dengan Batik Mosho tapi dengan harga terjangkau, bisa memesan batik cap.

“Kami juga sekarang ini banyak menerima pesanan batik cap, karena harganya lebih terjangkau, tapi hasilnya juga tetap bagus. Biasanya motif yang mereka pesan yaitu, penyu yang merupakan simbol Bumi Batiwakkal,” kata dia.

Kesuksesan itu tidak membuat Shodik lupa pada awal perjalanannya. Ia terus aktif sebagai pembina batik di Berau, dan menggandeng dinas terkait untuk mendorong batik Berau menjadi ikon budaya yang diakui secara nasional.

Meski sukses, dia mengakui bahwa tantangan tetap ada. Mulai dari sulitnya mendapatkan bahan baku berkualitas di daerah, hingga minimnya promosi digital yang bisa menjangkau pasar lebih luas.

Cerita Mochammad Shodik kembangkan batik Mosho
Cerita Mochammad Shodik kembangkan batik Mosho (Nadya Zahira/BT)

“Harapan saya, pemerintah bisa lebih memberi perhatian pada batik lokal. Kami ingin Batik Mosho tidak hanya dikenal di Berau, tapi juga menjadi salah satu batik khas Kalimantan Timur yang mendunia,” ucap Sodik.

Kini, Batik Mosho bukan sekadar kain batik. Ia adalah cerita tentang keberanian bermimpi di tengah keterbatasan, tentang ketekunan yang tak kenal lelah, dan tentang cinta pada budaya sendiri. Dan semua itu dimulai dari satu tekad sederhana: mencari tambahan penghasilan demi keluarga.