TANJUNG REDEB – Kampung Purna Sari Jaya di Talisayan, Berau, mencoba mempertahankan lahan pertanian jagung di tengah ekspansi bisnis perkebunan kelapa sawit yang lebih menjanjikan.

Rayuan keuntungan perkebunan kelapa sawit, menggeser eksistensi para petani jagung di Bumi Batiwakkal.

Kondisi itu nampak terang di Kampung Purna Sari Jaya, Talisayan. Lahan yang dulunya produktif untuk lahan pertanian jagung, kini lebiuh dari 70 persen sudah beralih menjadi perkebunan kelapa sawit.

Situasi tersebut membuat pemerintah kampung semakin resah. Sebab, kondisi tersebut bertentangan dengan visi ketahanan pangan Asta Cita Kabinet Merah Putih.

Diungkapkan Muhammad Sumanto, Kakam Purna Sari Jaya, bahwa saat ini jumlah petani hanya berjumlah sebanyak 250 petani yang terbagi di 11 gabungan kelompok tani alias Gapoktan.

Petani tersebut mengelola lahan produktif sebanyak 263 hektare, pada data yang disajikan tahun 2023 lalu.Pada lahan tersebut, perputaran uang para petani mencapai Rp3 miliar per tahun.

Angka itu menurun drastis jika dibandingkan pada tahun 2022 lalu. Dimana masih tersedia lahan seluas 760 hektare. Dengan nilai keuntungan petani masih mencapai Rp7 miliar per tahun.

“Sekarang petani tidak mau repot, keuntungan dari sawit lebih instan,” kata Sumanto, Senin (14/7/2025).

Dia mengakui situasi tersebut tak dapat dihindarkan. Sebab, para petani mencari jalan cocok tanam yang lebih menguntungkan.

Langkah instan itu diambil petani karena minim risiko. Sebab jika memilih bertahan pada komoditas jagung maka petani harus membeli benih jagung hibrida dengan harga yang sangat mahal.

Selain itu harga jagung di pasar lokal cenderung tak menentu, hal tersebut belum ditambah dengan kendala lain seperti degradasi kualitas lahan pertanian.

Belum lagi serangan hama yang setiap tahunnya semakin beragam. Termasuk pula harga alat mesin pertanian modern yang dibeli dengan harga selangit. “Ini sangat dilematis untuk petani,” sebutnya.

Dalam situasi itu, pemerintah kampung tak tinggal diam. Saat ini pihaknya telah menyiapkan lahan seluas 2 hektar untuk menyiapkan benih jagung komposit.

Benih yang sebelumnya akan melalui proses uji sertifikasi benih di Samarinda. Sertifikat yang akan dijadikan modal untuk mendistribusikan benih ke pasar lokal. “Kami coba lewat BUMK,” bebernya.

Selain itu, pihaknya telah memastikan pasar distribusi hasil pertanian jagung melalui Perum Bulog Berau.

Diklaim, saat ini proses kerjasama telah berjalan. “Kami juga berharap terhadap program prioritas pemerintah daerah hingga pusat,” ucapnya.

Pihaknya juga akan mendorong pembuatan aturan turunan dari pemerintah daerah, Perbup Nomor 2/2023 tentang perlindungan lahan produktif kampung untuk diteruskan menjadi peraturan kampung alias perkam.

Aturan tersebut diharapkan dapat menjadi jawaban atas kekhawatiran semakin degradasinya jumlah bukaan lahan untuk pertanian jagung.

“Ini akan dijadikan aturan agar warga tak membuka lagi lahan baru untuk sawit,” kata dia.

Senada, Sekretaris BUMK Mutiara Berkah, Syarifuddin, mengakui warganya lebih memilih untuk bertanam kelapa sawit lantaran masa tanam lebih panjang.

Selain itu, harga pasar lebih konsisten dan tempat menjual buah sawit pun tersebar luas di Berau, adapun komoditas jagung, selain kesulitan mendapat bibit unggul, harga yang dapat diraih pun sangat mahal.

“Maka itu kami lewat BUMK memastikan untuk intervensi harga bibit,” ucapnya.

Pemkab Berau sedang melakukan penanaman benih jagung komposit
Pemkab Berau sedang melakukan penanaman benih jagung komposit di Kampung Purna Sari Jaya, Talisayan. (Sulaiman/BT)

Menjawab keresahan itu, Bupati Berau Sri Juniarsih, memastikan pemerintah akan hadir untuk memberikan bantuan stimulan bagi para petani jagung di Berau.

Dia meminta kepada warga kampung agar selalu konsisten menanam jagung, agar masa kejayaan pertanian jagung di Talisayan dapat dikembalikan. “Kita rebut lagi kejayaan jagung ini,” kata Bupati Sri Juniarsih.

Dia meminta kepada para petani untuk aktif berkoordinasi dengan pemerintah melalui Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung dan DTPHP Berau.

Dinas tersebut yang saat ini akan memastikan program stimulus bagi para petani. “Alsintan dan saprodi sapronak, akan disiapkan pemerintah setiap tahunnya,” ucapnya. (*)