BERAU TERKINI – Sebuah insiden memprihatinkan yang menimpa seorang bocah berusia 9 tahun kini menjadi alarm keras bagi dunia pariwisata di Kabupaten Berau.

Korban dilaporkan mengalami luka serius setelah terhantam kayu gelondongan sepanjang 5 meter saat sedang menikmati suasana pantai. 

Kejadian ini memicu reaksi cepat dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Berau yang mendesak seluruh pengelola objek wisata untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem keamanan di lokasi mereka masing-masing.

Kepala Bidang Pemadaman dan Penyelamatan, Nofian Hidayat, menegaskan, peristiwa berdarah ini harus menjadi perhatian serius, baik bagi destinasi yang dikelola oleh pihak ketiga maupun yang berada di bawah wewenang pemerintah kampung. 

Kepala Bidang Pemadaman dan Penyelamatan, Nofian Hidayat.
Kepala Bidang Pemadaman dan Penyelamatan, Nofian Hidayat.

Baginya, aspek keselamatan pengunjung adalah harga mati yang tidak bisa ditawar, terutama di lokasi wisata pantai yang menjadi tujuan utama keluarga saat musim liburan tiba. 

“Harapan kami, semua pengelola objek wisata di Kabupaten Berau segera melakukan evaluasi. Kejadian ini jangan sampai terulang lagi, apalagi yang menjadi korban adalah anak-anak,” ujarnya, Rabu (25/3/2026).

Nofian menilai terdapat sejumlah lubang besar dalam sistem keamanan wisata yang harus segera ditambal, mulai dari kesiapan personel hingga ketersediaan alat pelindung. 

Pengelola diwajibkan memastikan adanya petugas penjaga pantai (lifeguard) yang telah terlatih secara profesional dan memiliki kesiapsiagaan tinggi dalam melakukan tindakan penyelamatan darurat. 

Tanpa adanya pengawasan aktif di bibir pantai, risiko kecelakaan serupa akan terus mengintai para pelancong.

Selain faktor manusia, kelengkapan sarana dan prasarana keselamatan di kawasan pesisir juga menjadi sorotan utama. 

Pengelola diminta tidak pelit dalam menyediakan fasilitas vital seperti pelampung, tali penyelamat, hingga pembangunan titik pengawasan yang mudah dijangkau oleh pengunjung. 

“Seperti pelampung, tali penyelamat, hingga titik pengawasan yang mudah dijangkau pengunjung,” jelas Nofian.

Langkah preventif lainnya yang dinilai krusial adalah pemasangan papan peringatan di titik-titik rawan.

Edukasi visual ini sangat penting untuk mengingatkan wisatawan terhadap potensi bahaya tersembunyi, seperti arus bawah yang kuat maupun ancaman benda-benda hanyut dari tengah laut yang terbawa ombak ke tepian. 

Kesadaran pengunjung sering kali baru muncul setelah melihat peringatan resmi dari pihak pengelola di lokasi.

Terakhir, Nofian memberikan penekanan khusus pada rutinitas pembersihan area pantai dari material sampah laut yang masif. 

Kayu-kayu besar yang terdampar sering kali dianggap sebagai pemandangan alami yang sepele, padahal bisa berubah menjadi senjata mematikan saat terdorong ombak besar ke arah kerumunan orang. 

“Kami juga mengimbau agar pengelola rutin melakukan pembersihan pantai, terutama kayu-kayu besar yang berpotensi membahayakan pengunjung. Hal-hal seperti ini sering dianggap sepele, padahal risikonya sangat besar,” pungkasnya. (*)