TANJUNG REDEB – Transformasi digital di ruang baca perpustakaan Berau saat ini dianggap baik, di tengah kecilnya angka minat baca yang berada di bawah 40 persen.
Bupati Berau, Sri Juniarsih, mengatakan, saat ini telah memberikan akses pendidikan yang terbuka bagi semua masyarakat Bumi Batiwakkal.
Salah satu upaya pemerintah untuk memastikan pemerataan pendidikan diharapkan selaras dengan peningkatan jumlah minat baca kawula muda Bumi Batiwakkal.
“Akses pendidikan bahkan ke perpustakaan sudah sangat mudah, semua bisa merasakan program ini,” kata Bupati Sri.
Mendapatkan informasi dan bahan bacaan yang semakin mudah, sudah bukan menjadi alasan warga Berau untuk menurunkan minat baca.
Menyempatkan waktu selama satu sampai dua jam sehari untuk membaca informasi yang penting akan berdampak baik dalam melatih pemikiran kritis.
“Tentu akan berdampak baik pada pembangunan manusia di masa yang akan datang,” tuturnya.
Dirinya pun terus mendukung inovasi yang dilakukan Dinas Perpustakaan dan Arsip (Dispusip) Berau yang saat ini telah menyediakan ruang digital bagi para pembaca. Inovasi positif untuk meningkatkan angka minat baca di Berau.
“Semoga ini bisa meningkatkan semangat kawula muda untuk datang ke perpustakaan dan gunakan gadget dengan baik,” harap dia.
Sebelumnya, Kepala Dispusip Berau, Yudha Budi Santosa, menyebut, generasi muda saat ini lebih tertarik pada layar gadget ketimbang lembaran buku.
“Ini yang mendorong kami untuk mengubah pendekatan ke arah digitalisasi yang lebih interaktif,” ucapnya.
Melalui platform digital, koleksi buku elektronik, akses komputer publik, hingga layanan perpustakaan keliling, Dispusip Berau ingin menjadikan literasi sebagai sesuatu yang tidak hanya penting, tapi juga menyenangkan dan mudah diakses.
Transformasi ini juga mencakup penyediaan fasilitas penunjang yang ramah bagi pengunjung, baik yang ingin belajar, bekerja, maupun sekadar rekreasi edukatif.
“Kami ingin menciptakan pengalaman baru di perpustakaan bukan hanya datang untuk membaca, tapi juga bisa menikmati waktu dengan nyaman. Ada ruang baca, komputer umum, tempat rekreasi, dan semuanya gratis,” jelasnya.
Menariknya, semua layanan dapat diakses oleh masyarakat umum tanpa harus menjadi anggota.
Namun, bagi yang membuat kartu keanggotaan, ada keuntungan lebih bisa meminjam buku untuk dibawa pulang dalam jangka waktu tertentu.
Yudha menilai generasi muda, terutama Gen Z, punya keunggulan dalam penguasaan teknologi.
“Daripada melihatnya sebagai tantangan, justru harus dimanfaatkan untuk menghidupkan kembali semangat membaca,” jelasnya.
Lewat berbagai inovasi ini, Dispusip Berau berharap perpustakaan bisa menjadi ruang aman dan inklusif bagi semua kalangan baik pelajar, mahasiswa, hingga orang tua.
“Kami ingin masyarakat menikmati perpustakaan bukan hanya sebagai tempat mencari buku, tapi juga tempat mencari inspirasi,” harapnya. (*/Adv)
