BERAU TERKINI Kalimantan Timur perlahan mulai melepaskan ketergantungannya pada sektor pertambangan batu bara dan minyak gas. Pemerintah provinsi kini menyalakan mesin ekonomi baru melalui sektor pertanian modern.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perkebunan Kaltim Ahmad Muzakkir memperkenalkan strategi bernama Jospol 1 untuk mewujudkan transformasi tersebut. Program ini fokus pada hilirisasi industri pertanian melalui perluasan areal tanam.

Peningkatan nilai tambah komoditas perkebunan diyakini menjadi kunci penggerak ekonomi masa depan. Muzakkir menyebut sejumlah komoditas potensial kini tengah dikembangkan secara serius di berbagai daerah.

Sebut saja komoditas karet dan aren yang menjadi andalan di Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kutai Barat. Ada pula komoditas kopi yang mulai menggeliat di Paser.

“Selain itu, komoditas Kakao di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kabupaten Kutai Barat dan Kabupaten Berau,” ujarnya, Selasa (16/12/2025).

Petani Kakao Mulai Sejahtera

Komoditas kakao atau cokelat memang tengah menjadi primadona baru. Data Dinas Perkebunan mencatat luas areal tanam kakao di Benua Etam kini sudah mencapai 5.852 hektare.

Sektor ini menjadi tumpuan hidup bagi sekitar 5.683 kepala keluarga petani. Tingkat kesejahteraan mereka pun perlahan naik seiring harga jual biji kering yang berkisar antara Rp35.000 hingga Rp38.000 per kilogram.

Kualitas kakao Kaltim juga terbukti memiliki kekhasan tersendiri hingga diminati pasar global. Kakao fermentasi dari Kampung Merasa di Kabupaten Berau misalnya sukses diekspor ke pabrik cokelat Urwald Schokolade di Jerman.

Jejak sukses ini diikuti oleh kakao asal Kutai Timur. Melalui kegiatan temu bisnis, komoditas dari daerah ini mulai merambah pasar Eropa seperti Prancis dan Jerman serta pasar baru di Turki.

Dukungan Penuh Gubernur

Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud memberikan apresiasi tinggi atas capaian sektor perkebunan ini. Ia sangat berharap komoditas ini mampu mendongkrak perekonomian daerah yang selama ini bertumpu pada sumber daya alam tidak terbarukan.

Pria yang akrab disapa Harum ini bahkan memiliki pengalaman pribadi yang berkesan saat mencicipi olahan kakao lokal. Ia mengakui kualitas rasa produk petani Kaltim tidak kalah dengan produk luar negeri.

“Saya saat kunjungan ke Kutai Timur disuguhi minuman cokelat dan rasanya nikmat. Ternyata hasil produk lokal dan kakaonya sudah jadi komoditas ekspor,” kata Rudy.