BERAU TERKINI – Lonjakan drastis jumlah kunjungan wisatawan ke Kabupaten Berau selama periode libur Lebaran 1447 Hijriah dinilai sebagai momentum emas bagi peningkatan ekonomi daerah.
Pemerintah Kabupaten Berau kini membidik optimalisasi penarikan retribusi dan pajak sektor pariwisata guna memastikan arus kedatangan pelancong memberikan dampak nyata terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Sekretaris Kabupaten Berau, Muhammad Said, menegaskan, keramaian di berbagai objek wisata unggulan harus dikelola dengan manajemen pendapatan yang disiplin.
Menurutnya, potensi retribusi yang ada merupakan peluang besar yang tidak boleh terlewatkan begitu saja.
“Tentu, jadi ini kan kesempatan yang luar biasa kalau kita bisa maksimal untuk mendapatkan retribusi itu,” ujarnya kepada Berauterkini, Senin (30/3/2026).
Satu hal yang menjadi sorotan utama adalah tingginya tingkat okupansi akomodasi selama musim liburan.
Said menjelaskan, kewajiban membayar pajak tidak hanya berlaku bagi hotel berbintang atau resort mewah.
Tetapi juga mencakup rumah-rumah warga yang dialihfungsikan menjadi penginapan dadakan untuk menampung luberan wisatawan.
Fenomena munculnya homestay musiman ini dianggap sebagai indikator hidupnya ekonomi kerakyatan sekaligus peluang fiskal yang menjanjikan.
Pemerintah daerah berharap seluruh penyedia jasa penginapan kooperatif dalam memenuhi kewajiban perpajakannya sebagai bentuk kontribusi pembangunan kembali fasilitas wisata.
“Karena dengan banyaknya tamu, otomatis kan tingkat hunian hotel dan sebagainya, penginapan, resort termasuk rumah yang dijadikan penginapan itu juga harus membayar pajak, dan ini juga peluang yang sangat baik,” jelas Said.
Di balik upaya menggenjot pendapatan, Said juga menitipkan pesan penting kepada para aparatur kampung di lokasi wisata.
Ia mengingatkan, keberlanjutan sektor pariwisata sangat bergantung pada kenyamanan dan keramah-tamahan (hospitality) yang diberikan oleh masyarakat lokal.
Pelayanan yang maksimal akan menciptakan kesan positif sehingga wisatawan memiliki keinginan untuk kembali berkunjung ke Bumi Batiwakkal di masa mendatang.
Hal ini dinilai krusial karena dampak ekonomi yang luas akan dirasakan langsung oleh masyarakat kampung jika destinasi mereka terus digandrungi oleh banyak orang.
“Bukan hanya misalnya kita ingin mendapatkan penghasilan dari kedatangan mereka, tapi bagaimana juga di kampung-kampung juga memaksimalkan orang-orang di sana untuk melayani tamu secara baik, semaksimal mungkin,” tutupnya. (*)

