BERAU TERKINI – Meski angka keluhan kesehatan tinggi, namun belum semua penduduk Berau terlindungi jaminan kesehatan.
Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Berau merilis Statistik Kesejahteraan Rakyat 2025, yang menunjukkan bahwa kondisi kesehatan masyarakat Berau masih menghadapi sejumlah tantangan.
Kepala BPS Berau, Yudi Wahyudin mengatakan, hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2025 menggambarkan perlunya penguatan layanan kesehatan dan edukasi masyarakat.
Berdasarkan laporan tersebut, 59,88 persen penduduk Berau mengaku mengalami keluhan kesehatan dalam sebulan terakhir dan pernah menjalani rawat jalan.
Tingginya persentase ini menunjukkan bahwa gangguan kesehatan, baik ringan maupun kronis, masih banyak dialami masyarakat.

“Angka keluhan kesehatan ini menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat masih rentan terhadap gangguan kesehatan yang mengganggu aktivitas sehari-hari,” ujarnya.
Dijelaskannya Data Susenas mencatat angka kesakitan perempuan mencapai 11,30 persen, lebih tinggi dibanding laki-laki yang berada pada 9,73 persen.
Kondisi serupa terlihat dari kepemilikan jaminan kesehatan, di mana perempuan tercatat sedikit lebih banyak memiliki BPJS Kesehatan.
“Perbedaan ini bisa terjadi karena faktor biologis, pola aktivitas, hingga kecenderungan perempuan lebih sering memeriksakan diri ketika mengalami keluhan,” tuturnya.
BPS juga mencatat 68,33 persen penduduk Berau telah memiliki jaminan kesehatan, baik BPJS Kesehatan maupun program jaminan dari pemerintah daerah. Meski demikian, masih ada lebih dari seperempat penduduk yang belum terlindungi.
Penduduk pada kelompok pengeluaran tertinggi memiliki akses jaminan lebih baik 84,33 persen di antaranya tercatat memiliki BPJS. Sementara kelompok terbawah hanya 60,11 persen.
Aspek lain yang menjadi perhatian adalah konsumsi rokok. Tercatat 29,24 persen penduduk Berau usia 15 tahun ke atas masih merokok tembakau dalam sebulan terakhir.
Kelompok pengeluaran menengah memiliki persentase perokok tertinggi yaitu 31,51 persen, diikuti kelompok teratas 30,60 persen. Sementara dari sisi pendidikan, masyarakat berpendidikan SD ke bawah dan SMP ke atas menunjukkan tren konsumsi rokok yang hampir sama.(*)
