BERAU TERKINIBPS Berau mencatat, sejumlah komoditas memiliki andil besar dalam inflasi kelompok makanan, minuman dan tembakau.

Kenaikan harga kelompok makanan, minuman dan tembakau kembali menjadi penyumbang inflasi terbesar di Berau pada Agustus 2025. Terlebih, inflasinya sangat melonjak dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya.

Badan Pusat Statistik (BPS) Berau menyebutkan bahwa kelompok tersebut pada Agustus 2025 di Berau, mengalami inflasi secara year on year (yoy) sebesar 4,57 persen atau terjadi kenaikan indeks dari 107,87 pada Agustus 2024 menjadi 112,80 pada Agustus 2025.

Kepala BPS Berau, Yudi Wahyudi mengatakan subkelompok yang mengalami inflasi secara tahunan atau yoy tertinggi, yaitu subkelompok minuman yang tidak beralkohol sebesar 11,42 persen dan yang terendah, yaitu subkelompok rokok dan tembakau sebesar 2,17 persen.

“Kelompok ini pada Agustus 2025 memberikan andil atau sumbangan inflasi secara yoy sebesar 1,32 persen,” kata Yudi dalam keterangan resminya, dikutip Selasa (2/9/2025).

Sementara itu, Yudi bilang, komoditas yang dominan memberikan andil atau sumbangan inflasi secara yoy yaitu, bawang merah sebesar 0,28 persen, udang basah sebesar 0,18 persen, kopi bubuk sebesar 0,17 persen, ikan bandeng atau ikan bolu sebesar 0,13 persen dan beras sebesar 0,10 persen.

Minyakita yang stoknya hanya sedikit di salah satu toko sayur mayur di Tanjung Redeb, Berau
Minyakita yang stoknya hanya sedikit di salah satu toko sayur mayur di Tanjung Redeb, Berau (Nadya Zahira/BT)

Disusul, minyak goreng sebesar 0,09 persen, daging ayam ras dan jagung manis masing-masing 0,07 persen, ikan tongkol atau ikan ambu-ambu, Sigaret Kretek Mesin (SKM), dan kue basah masing-masing 0,06 persen dan ikan kembung atau ikan gembung atau ikan banyar atau ikan gembolo atau ikan aso-aso, donat, dan terong yang masing-masing 0,04 persen.

Selanjutnya, Yudi menyebutkan juga terdapat kelapa, santan jadi, tomat, daun kemangi, dan gula pasir masing-masing 0,03 persen, serta air kemasan sebesar 0,02 persen.

Sedangkan komoditas yang dominan memberikan andil atau sumbangan deflasi secara yoy, Yudi bilang yakni, cabai rawit dan pisang masing-masing 0,09 persen, kangkung sebesar 0,05 persen, tempe, bayam, dan sawi hijau masing-masing 0,03 persen, serta kacang panjang, telur ayam ras, buncis, ketimun, dan wortel masing-masing 0,02 persen.

“Kemudian, juga terdapat kentang, daun singkong, ikan kakap merah, dan nangka muda yang masing-masing sebesar 0,01 persen,” jelas ya.

Adapun komoditas yang dominan memberikan andil atau sumbangan deflasi secara bulanan atau month to month (MoM) antara lain yaitu, tomat sebesar 0,41 persen, cabai rawit sebesar 0,07 persen, kangkung dan cabai merah masing-masing 0,04 persen, jagung manis dan bayam masing-masing 0,03 persen, serta tempe, ikan kakap merah, daging ayam ras, jeruk nipis atau limau, pare, dan telur ayam ras masing-masing 0,01 persen.

Yudi menyebutkan untuk komoditas yang dominan memberikan andil atau sumbangan inflasi secara MoM yaitu, bawang merah sebesar 0,12 persen, beras sebesar 0,10 persen, ikan bandeng atau ikan bolu sebesar 0,06 persen, serta udang basah, ikan tongkol atau ikan ambu-ambu, dan ikan gembung yang masing-masing sebesar 0,03 persen.

Kemudian, tahu mentah, ikan layang atau ikan benggol, dan susu bubuk untuk balita masing-masing 0,02 persen. Sedangkan untuk daun kemangi, cumi-cumi, lada atau merica, penyedap masakan, kacang panjang, dan pisang masing-masing sebesar 0,01 persen.

BPS Berau juga menyebutkan, inflasi di Berau mencapai 1,87 persen pada Agustus 2025 secara year on year (yoy). Angka ini mengalami peningkatan dibandingkan dengan capaian Juli 2025 yang mencapai 1,77 persen.

Sementara untuk Indeks Harga Konsumen (IHK), mencapai sebesar 108,65, disusul tingkat inflasi secara year to date (y-to-d) yang mencapai 1,33 persen