BERAU TERKINI – Sinyal ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai terlihat di Kabupaten Berau.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Berau mencatat peningkatan jumlah titik panas yang terpantau di sejumlah kecamatan di Bumi Batiwakkal dalam beberapa hari terakhir.
Berdasarkan data BMKG Berau, pada 26 Januari 2026, terdapat 18 titik panas.
Dari data tersebut, terdapat dua titik panas di Gunung Tabur, lima titik di Kelay, satu titik di Pulau Derawan, tiga titik di Sambaliung, dua titik di Segah, serta lima titik Tabalar.
Kepala BMKG Berau, Ade Heryadi, menjelaskan, kondisi cuaca saat ini patut diwaspadai.
Indikator Fine Fuel Moisture Code (FFMC) menggambarkan tingkat kekeringan bahan ringan mudah terbakar di lantai hutan.
Kemudian, pada periode 28-31 Januari 2026, kondisi di Berau bervariasi, mulai dari basah hingga sangat kering dan sangat mudah terbakar.
“Wilayah yang perlu perhatian lebih berada di sebagian Segah, Kelay, Gunung Tabur, Teluk Bayur, hingga pesisir selatan Berau,” jelasnya, Selasa (27/1/2026).
Ade menambahkan, hasil monitoring curah hujan hingga dasarian II Januari hanya tercatat 42,8 mm yang masuk kategori rendah.
Rendahnya hujan ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor atmosfer, di antaranya labilitas udara yang ringan, minimnya pembentukan awan hujan akibat tidak terbentuknya belokan angin dan konvergensi.
Selain itu, kecepatan angin yang cukup kencang di lapisan 3.000 kaki, serta kelembapan udara lapisan atas yang hanya berkisar 65–70 persen.
“Dengan kondisi ini, besar kemungkinan tren titik panas akan meningkat,” tegasnya.
Meski demikian, Ade menekankan kondisi saat ini belum bisa serta-merta disebut sebagai musim kemarau.
Penentuan musim masih memerlukan data tambahan dari jejaring pengamatan yang lebih luas serta analisis data blending GSMaP.
“Yang terjadi saat ini masih merupakan bagian dari variabilitas cuaca dan iklim,” ujarnya.
Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Berau mulai meningkatkan kesiapsiagaan.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Berau, Nofian Hidayat, mengatakan, pihaknya terus melakukan patroli mandiri dan patroli terpadu guna mengantisipasi potensi karhutla.
Tak hanya patroli, BPBD juga menggencarkan sosialisasi kepada masyarakat, baik di wilayah perkotaan maupun melalui tim BPBD yang tersebar di masing-masing kecamatan.
“Seperti kejadian karhutla sebelumnya, begitu ada laporan, kami langsung menuju lokasi untuk melakukan pemadaman,” kata Nofian.
Ia mengakui, tantangan utama di lapangan saat ini adalah keterbatasan personel serta biaya operasional, khususnya untuk kebutuhan bahan bakar saat patroli dan penanganan awal kebakaran.
“Fasilitas relatif cukup, tapi petugas di lapangan masih kurang. Biaya operasional juga masih mengandalkan BBM mandiri,” ungkapnya.
Nofian pun berharap adanya peran aktif pelaku usaha di sekitar wilayah rawan karhutla agar turut bersinergi dalam upaya pencegahan dan penanggulangan.
“Bukan hanya mencegah, tapi juga ikut membantu saat terjadi kebakaran,” pungkasnya. (*)
