BERAU TERKINI – BMKG Berau mengungkapkan perkiraan cuaca dan iklim yang akan terjadi di tahun 2026.
Kepala BMKG Berau, Ade Heryadi menyatakan bahwa iklim di tahun 2026 akan lebih panas dibandingkan tahun sebelumnya.
“Kami dari BMKG menyampaikan bahwa untuk prakiraan iklim di tahun 2026 diprediksi kita di tahun 2026 ini akan lebih kering dibandingkan di tahun 2025,” ungkap Ade Haryadi, Senin (5/1/2026).
Ade Heryadi menjelaskan curah hujan Kabupaten Berau secara keseluruhan di posisi menengah, yaitu ada di angka 200 mm hingga 300 mm, sedangkan curah hujan tinggi ada di atas 300 mm.
“Secara umum, prediksi curah hujannya dalam kategori normal, kalau sifat hujannya normal kecuali pada bulan Maret nanti ada yang di atas normal, curah hujannya tinggi,” jelasnya.
Ia menambahkan walaupun hujan masih dalam kategori normal, tetapi tetap harus waspada dengan potensi hujan intensitas sedang maupun lebat dalam beberapa waktu ke depan.
“Untuk daerah tertentu ya daerah sebelah barat Berau curah hujannya menengah dan dalam kategori normal. Tapi intensitas itu diprediksi yang kemarin di notifikasi itu di wilayah Kabupaten Berau itu pada bulan Maret ada peningkatan dari menengah menuju ke tinggi,” jelasnya.
Potensi Gempa Masih Ada
BMKG Berau mengatakan bahwa Berau memiliki potensi gempa meski tidak masuk dalam kategori wilayah rawan gempa.
Hal itu terjadi karena adanya Sesar Sangkulirang, Mangkalihat, dan ada subduksi di timur Pulau Maratua serta adanya pertemuan utara Filipina dengan Sulawesi.
“Itu daerah-daerah itu memang yang perlu kita sadari ada kemungkinan potensi kejadian gempa. Di luar sesar-sesar lokal yang lainnya, yang itu juga sudah mulai ada kejadian gempa,” ujarnya.

BMKG Berau juga menyatakan bahwa di Kabupaten Berau ini sudah ada 3 alat pencatat gempa atau seismograf, yaitu di Teluk Bayur, Maratua, dan Biduk-biduk.
Selain daerah yang sebelumnya disebutkan, Ade mengatakan jika daerah pesisir timur, seperti Biduk Selatan sampai dengan Muara Berau merupakan titik sering terjadinya gempa.
Ia menambahkan bahwa berapa pun intensitas gempa, pihaknya tetap akan melakukan penyebaran informasi.
“BMKG menyiapkan semua fasilitas untuk mendukung kegiatan atau aktivitas masyarakat, baik di daratan ataupun di pulau yang berkaitan dengan potensi kegempaan,” ungkapnya.
Bakal Pasang Alat Deteksi Gelombang
Lebih jauh BMKG Berau juga mengingatkan ancaman gelombang tinggi yang sering terjadi di daerah pesisir Berau.
Karena itu, BMKG Berau akan merencanakan pengadaan alat pendeteksi gelombang.
Ia menjelaskan bahwa alat ukur observasi laut sangat diperlukan dan ia berharap pemerintah bisa menyediakan alat pendeteksi gelombang di perairan Berau.
“Jadi mudah-mudahan dalam waktu ke depan kita bersinergi baik itu BMKG maupun Pemda untuk bisa menyediakan alat ukur baik ke kondisi real di perairan, maksudnya alat pengamatan cuaca di perairan di Berau ini” jelasnya.
Ade mengatakan pemasangan alat deteksi atau pengukur level air laut di wilayah Berau akan dibantu oleh tim dari BMKG Balikpapan.

“Mudah-mudahan itu bisa terealisasi, kita lihat dengan struktur anggaran yang kita gunakan berkaitan dengan bukan hanya prakiraan kondisi cuaca, tapi juga berkaitan dengan kondisi-kondisi anomali lainnya terkait dengan perubahan air laut, kenaikan air laut,” ujarnya.
Ia mengatakan selain di Tanjung Batu, alat deteksi juga bisa dipasang di Pulau Maratua yang fungsinya selain untuk mengukur arus juga untuk mengukur level air laut tersebut.
Dirinya menambahkan bahwa rencana pemasangan alat pendeteksi gelombang bisa dilakukan di tahun ini dengan berbagai pertimbangan.
“Kalau rencana sih mudah-mudahan tahun ini, tapi kan kembali lagi ke kondisi keuangan seperti apa,” tutupnya.
Dia menjelaskan, dibutuhkan sejumlah persyaratan sebelum pemasangan alat deteksi gelombang, mulai dari kesiapan tempat dan anggaran.
“Kalau tidak tersedia ya artinya mungkin bisa diundur lagi, periode atau tahun yang akan datang,” tutupnya. (*)
