BERAU TERKINI – Kawasan perkotaan Tanjung Redeb kini semakin padat oleh berbagai jenis usaha yang tumbuh pesat.

Namun, pertumbuhan ekonomi ini membawa konsekuensi pada kondisi lalu lintas yang kian semrawut akibat parkir kendaraan yang tidak tertata di bahu jalan.

Berdasarkan pantauan lapangan, setidaknya terdapat tiga titik utama yang kerap menjadi pusat kemacetan.

Kawasan ekonomi di Jalan Niaga, Jalan P Diguna, dan Jalan Kapten Tendean menjadi titik pertama yang paling terdampak.

Kepadatan serupa juga terlihat di Jalan Durian dan Jalan Pulau Panjang hingga sepanjang Jalan Murjani I, II, dan III.

Data dari BPS Berau mencatat jumlah usaha warung makan dan kafe di Berau kini telah mencapai angka 62 ribu unit. 

Sayangnya, banyak dari tempat usaha tersebut beroperasi tanpa memiliki kantong parkir yang memadai.

Sehingga, pengunjung terpaksa memanfaatkan badan jalan untuk meletakkan kendaraan mereka.

Panji, salah satu warga Tanjung Redeb, mengungkapkan, kepadatan kendaraan biasanya mencapai puncaknya pada akhir pekan.

Pada momen tersebut, kafe dan warung makan dipadati pengunjung yang memarkir kendaraan roda empat hingga memakan sebagian besar badan jalan.

“Sabtu-Minggu itu pasti ramai, kadang macet juga,” kata Panji, Selasa (3/2/2026).

Kondisi diperparah karena parkir kendaraan seringkali memenuhi kedua sisi jalan sekaligus. Hal ini secara otomatis mempersempit ruang gerak kendaraan yang melintas.

Saat kendaraan dari dua arah berlawanan berpapasan, salah satu sisi harus mengalah dan berhenti, yang kemudian memicu antrean panjang di belakangnya.

“Kalau satu stop, otomatis yang di belakang juga harus stop. Makanya jadi macet,” tutur Panji.

Meski saat ini kemacetan dianggap belum menjadi beban yang sangat berat, warga mulai khawatir situasi akan semakin memburuk seiring meningkatnya populasi dan jumlah kendaraan di Berau.

Saat ini, jumlah penduduk Berau telah mencapai angka 303 ribu jiwa, di mana mobilitas warga dari wilayah perkampungan ke pusat kota dengan kendaraan pribadi juga turut memberikan andil pada kepadatan lalu lintas.

“Karena yang dari kampung juga jalan-jalan kan di kota bawa kendaraan pribadi,” keluhnya.

Panji dan warga lainnya berharap pemerintah dapat memberikan solusi konkret atas masalah ini. 

Salah satu usulan yang muncul adalah pemberian imbauan kepada pemilik usaha atau minimal penempatan petugas parkir di setiap titik keramaian untuk mengatur arus lalu lintas secara aktif.

“Kalau ada yang membantu mengurai pasti bisa lebih baik situasinya,” kata Panji.

Hingga berita ini diturunkan, awak media telah berupaya mengonfirmasi permasalahan ini ke Dinas Perhubungan Berau.

Namun, instansi terkait menyatakan masih perlu melakukan koordinasi lebih lanjut dengan pejabat penentu kebijakan sebelum memberikan keterangan resmi. (*)