BERAU TERKINI – Tren pariwisata di Kabupaten Berau terus menunjukkan grafik peningkatan yang signifikan seiring berjalannya waktu.

Sekretaris Disbudpar Berau, Samsiah Nawir, menyampaikan apresiasi mendalam kepada para influencer dan media yang konsisten mempromosikan keindahan Bumi Batiwakkal hingga informasinya terserap dengan baik oleh wisatawan luar daerah.

Namun, popularitas yang meroket ini membawa tantangan tersendiri, terutama terkait ketersediaan akomodasi saat musim libur panjang tiba. 

“Jadi informasi itu alhamdulillah tersampaikan kepada wisatawan luar,” ungkapnya kepada Berauterkini, Kamis (26/3/2026).

Menanggapi fenomena wisatawan yang sempat viral karena tidur di masjid di Bidukbiduk, Samsiah menjelaskan, secara kapasitas normal, daerah tersebut sebenarnya memiliki sekitar 78 akomodasi yang terdiri dari resort hingga homestay.

Jumlah ini biasanya mencukupi bahkan cenderung berlebih saat masa low season.

Masalah utama muncul ketika wisatawan datang tanpa perencanaan matang atau belum memahami situasi lapangan di destinasi populer seperti Biduk-Biduk, Derawan, dan Maratua yang mewajibkan pemesanan jauh-jauh hari. 

“Seperti Bidukbiduk, Derawan, Maratua itu bookingnya jauh-jauh hari. Jadi memang jauh-jauh hari itu penginapan sudah dibooking semua ya,” ujarnya.

Guna menyiasati membludaknya pengunjung yang melebihi ekspektasi, Disbudpar Berau telah berkoordinasi intensif dengan pemerintah kampung dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis).

Sebagai langkah antisipasi, Pokdarwis telah menyediakan fasilitas tambahan berupa unit glamping dan belasan tenda sewa, meskipun seluruhnya langsung habis terpesan dalam waktu singkat. 

Kondisi ini memicu munculnya inisiatif “homestay dadakan” di mana warga lokal dengan tangan terbuka menyewakan kamar-kamar pribadi mereka untuk menampung tamu yang terlantar.

Pj Kepala Kampung setempat bahkan telah mengimbau warga untuk siap siaga membantu para pelancong yang kesulitan mencari tempat berteduh. 

Samsiah menekankan, wisatawan yang kesulitan mendapatkan penginapan sebenarnya bisa langsung melapor ke kepala kampung untuk diarahkan ke rumah-rumah warga yang tersedia. 

Sikap ramah tamah masyarakat lokal menjadi kunci utama terkendalinya situasi di tengah kepadatan tersebut. 

“Warga sudah welcome sekali gitu ya sampai rumah-rumah mereka sudah siap dijadikan homestay dadakan,” jelasnya.

Samsiah juga mencatat, selain faktor kurangnya persiapan, keberadaan kelompok backpacker yang memang mencari penginapan murah atau gratis turut memengaruhi fenomena penuhnya ruang publik.

Meski demikian, secara keseluruhan kondisi di titik-titik wisata unggulan Berau diklaim tetap kondusif dan tertib. 

Lonjakan wisatawan ini dipandang sebagai sinyal positif bagi ekonomi daerah, sekaligus menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat manajemen arus pengunjung di masa mendatang.

Kedepannya, wisatawan sangat disarankan untuk lebih teliti dalam merencanakan perjalanan, terutama saat memasuki periode krusial seperti libur Nataru, Lebaran, dan libur sekolah. 

Kolaborasi antara pemerintah, pengelola wisata, dan kesadaran pengunjung diharapkan dapat menciptakan ekosistem pariwisata yang lebih nyaman bagi semua pihak. 

“Tapi sejauh ini masih terkendali, masih tertib seperti itu,” pungkas Samsiah. (*)