BERAU TERKINI — Suasana semarak menyambut bulan suci Ramadan mulai terasa di halaman Masjid Agung Baitul Hikmah Tanjung Redeb.
Bazar Ramadan yang dinanti-nanti warga ini mulai dibuka, Kamis (19/2/2026), di mana puluhan rombong makanan tertata rapi, menyajikan beragam pilihan hidangan berbuka puasa yang menggugah selera.
Sejak pukul 16.30 WITA, para pengunjung terpantau mulai memadati area bazar.
Kondisi di lapangan tampak mulai berdesakan oleh warga yang antusias berburu takjil.
Nyaris tidak ada rombong yang sepi, semua jenis kuliner mulai dari camilan ringan seperti dimsum, pempek, dan kerak telur, hingga makanan berat seperti ikan bakar, ayam bakar, serta ricebowl menjadi incaran pembeli.
Pilihan minuman segar seperti es kelapa, es teh, hingga es teler pun turut ludes diserbu warga.
Tingginya antusiasme masyarakat sempat menyebabkan sedikit kemacetan di akses masuk dan keluar masjid.

Beruntung, sejumlah petugas dari Dinas Perhubungan telah bersiaga di lokasi untuk mengatur lalu lintas agar tetap tertib dan terkendali.
Dibalik kemeriahan bazar, terselip kisah para pedagang yang setia mencari rezeki di momen tahunan ini.
Salah satunya adalah Abdul Hamid, pedagang yang sudah berjualan di lokasi tersebut sejak 2007.
Ia mengenang bagaimana harga sewa tenda terus berkembang dari Rp650 ribu hingga kini mencapai Rp2,5 juta yang ia tanggung bersama rekannya.
“Setiap tahun pasti bersama ini,” ungkap Hamid kepada Berauterkini sembari menunjuk rekan satu tendanya.
Keunikan dagangan Hamid terletak pada penggunaan daun pisang sebagai pembungkus seluruh makanannya, mulai dari barongko, bebongko, hingga aneka jenis botok.
Kerja kerasnya pun tak main-main. Ia bersama istrinya sudah mulai memproduksi dagangan sejak dini hari.
“Produksi sendiri semua dari jam 2 tengah malam sampai baru selesai,” ujarnya.

Hal senada dirasakan oleh Naura, pedagang yang baru memasuki tahun kedua berjualan di bazar ini.
Meskipun masih mengamati situasi di hari pertama, ia optimis dagangannya akan tetap diminati seperti tahun sebelumnya.
Menyewa tempat seharga Rp500 ribu, ia mengakui waktu puncak kunjungan pembeli selalu terjadi di sore hari.
“Enggak tahu ini dulu rame,” singkatnya saat ditanya mengenai target penjualan.
Naura menjelaskan, untuk memastikan tingkat keramaian pembeli, biasanya diperlukan waktu beberapa hari ke depan. Namun, tren kunjungan selalu menunjukkan pola yang sama.
“Biasanya habis Ashar begini, biasanya,” tambahnya.
Bazar Ramadan di Masjid Agung ini diperkirakan akan terus menjadi pusat keramaian warga Tanjung Redeb sepanjang Ramadan, yang menawarkan kehangatan suasana berbagi sekaligus geliat ekonomi bagi pelaku usaha kecil. (*)
