BERAU TERKINI – Fokus pasarkan kakao di dalam negeri, Disbun Berau belum berencana ekspor ke luar negeri.

Dinas Perkebunan (Disbun) Berau menyatakan bahwa dalam waktu dekat ini tidak ada rencana untuk melakukan ekspor komoditas kakao.

Hal tersebut disampaikan langsung oleh Kepala Disbun Berau, Lita Handini yang menegaskan bahwa pihaknya saat ini memilih untuk memfokuskan pemasaran kakao ke pasar dalam negeri.

Menurut Lita, keputusan tersebut diambil dengan mempertimbangkan harga kakao di pasar domestik yang masih tergolong cukup menguntungkan. Ia menyebutkan bahwa harga biji kakao kering fermentasi saat ini berkisar antara Rp 80.000 hingga Rp 120.000 per kilogram (kg), tergantung dari kualitas biji yang dihasilkan.

“Harga di dalam negeri saat ini masih sangat baik dan menguntungkan bagi petani. Jadi belum ada urgensi untuk ekspor karena pasar domestik sendiri sudah cukup menyerap,” ujar Lita kepada Berauterkini.co.id, Senin (1/9/2025).

Selain dari segi harga, Lita juga menyebut faktor efisiensi sebagai alasan utama belum adanya rencana ekspor. Ia menilai bahwa menjual kakao di pasar lokal jauh lebih sederhana karena tidak membutuhkan prosedur administrasi dan persyaratan ketat sebagaimana yang dibutuhkan untuk ekspor ke luar negeri.

“Kalau ekspor itu kan harus melalui proses yang panjang dan memerlukan dokumen serta standar mutu tertentu. Sementara kalau dijual di dalam negeri, prosesnya jauh lebih mudah dan cepat,” tambahnya.

Kepala Disbun Berau Lita Handini
Kepala Disbun Berau Lita Handini (Nadya Zahira/BT)

Lebih lanjut, Lita juga menjelaskan bahwa dari sisi produksi, saat ini hasil panen kakao di Kabupaten Berau juga belum cukup untuk memenuhi kebutuhan pasar ekspor.

Produksi kakao dinilai masih terbatas, terutama setelah terjadi banjir besar yang melanda sejumlah wilayah di Berau pada April 2025 lalu. Banjir tersebut menyebabkan kerusakan cukup parah pada sejumlah lahan pertanian termasuk tanaman kakao.

Lita juga mengakui bahwa sejumlah perkebunan kakao di Berau, terdampak banjir dan mengalami penurunan produktivitas yang cukup signifikan. Pasalnya, banjir membuat produksi kakao tersebut membusuk karena terendam air dalam waktu yang cukup lama.

“Jadi produksi kakao kita masih belum stabil pasca banjir beberapa bulan lalu. Banyak tanaman yang rusak dan perlu waktu untuk pulih. Dengan kondisi seperti ini, lebih realistis jika kita fokus dulu pada pasar dalam negeri,” jelasnya.

Disbun Berau saat ini juga tengah mendorong peningkatan produktivitas petani melalui berbagai pelatihan dan bantuan teknis, agar ke depan komoditas kakao dari Berau bisa lebih bersaing, baik di pasar domestik maupun internasional.

“Kita tetap punya target jangka panjang agar kakao Berau bisa menembus pasar ekspor. Tapi itu nanti kalau produksi sudah mencukupi dan kualitas bisa memenuhi standar ekspor. Saat ini kita fokus dulu memperkuat dari dalam,” pungkasnya.

Tak hanya itu, Lita bilang, pihaknya juga terus membantu petani kakao di Berau dengan memberikan pupuk dan bantuan pestisida nabati untuk hama penyakit.

Adapun berdasarkan data dari Disbun Berau, produksi kakao di Berau hingga Semester II Tahun 2024 sebanyak 463,700 kg. Angka ini meningkat dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya yang mencapai 273,314 kg.