BERAU TERKINI – Peredaran gelap narkotika di Kabupaten Berau menunjukkan tren yang kian mengkhawatirkan.
Baru memasuki awal Februari 2026, Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) Polres Berau tercatat telah berhasil mengungkap 10 kasus narkotika dengan total barang bukti sabu mencapai lebih dari 1 kilogram.
Kasat Resnarkoba Polres Berau, AKP Agus Priyanto, mengungkapkan, dari rangkaian pengungkapan tersebut, pihak kepolisian mengamankan 16 orang tersangka, di mana satu di antaranya seorang perempuan.
Berdasarkan hasil pemeriksaan, seluruh tersangka diketahui memiliki peran sebagai pengedar di wilayah hukum Berau.
“Total sabu yang kami amankan sebanyak 1.254,79 gram. Semuanya pengedar,” tegas Agus, Sabtu (7/2/2026).
Letak geografis Berau yang berada di ujung utara Kalimantan Timur menjadikannya sebagai salah satu daerah paling rawan peredaran narkoba.
Wilayah ini kerap dijadikan lokasi transit bagi penyelundupan sabu dari arah utara yang hendak didistribusikan menuju Samarinda, Balikpapan, hingga menyeberang ke Sulawesi.
Selain menjadi jalur perlintasan, polisi juga menemukan fakta bahwa terdapat oknum di Berau yang sengaja memesan sabu dari Kalimantan Utara untuk dipasarkan secara lokal.
“Makanya mayoritas barang bukti sabu yang diungkap berasal dari Kaltara,” jelas Agus.
Saat ini, kepolisian tengah melakukan penyelidikan intensif guna memutus mata rantai jaringan yang masuk ke Berau.
Namun, Agus menekankan, upaya penindakan hukum harus dibarengi dengan langkah pencegahan sejak dini yang menyasar seluruh lapisan usia, mulai dari remaja hingga orang tua.
Masyarakat diimbau untuk konsisten menerapkan gaya hidup positif dan menjauhi pergaulan bebas yang berpotensi menjadi pintu masuk penyalahgunaan narkoba.
“Narkoba itu dampaknya banyak. Sebisa mungkin dihindari karena bisa merusak tubuh, mental, dan lingkungan sekitar,” ujarnya.
Ia menyarankan agar masyarakat menyalurkan energi dan emosi ke dalam aktivitas yang membangun, seperti menjalankan hobi yang mendukung kesehatan mental.
Edukasi mengenai bahaya narkoba juga dinilai krusial untuk ditanamkan sejak usia sekolah.
Bahkan, jika seseorang mengalami tekanan mental yang berat, Agus menyarankan untuk mencari bantuan profesional seperti psikiater ketimbang melarikan diri ke obat-obatan terlarang.
Sebagai langkah penguatan secara institusional, Agus mendorong agar pembentukan Badan Narkotika Kabupaten (BNK) Berau segera direalisasikan.
Kehadiran lembaga khusus ini diyakini akan memperkuat fungsi pencegahan secara kolektif bersama aparat kepolisian.
“Berau juga butuh BNK supaya kita bisa bersama-sama melakukan pencegahan,” pungkasnya. (*)
