BERAU TERKINI – Popularitas wisata bahari di Kabupaten Berau memang belum tertandingi, namun potensi wisata di lingkup daratan kini mulai mendapat perhatian serius. 

Kesenjangan popularitas antara keindahan bawah laut dengan pesona daratan mendorong berbagai pihak untuk lebih gencar mempromosikan destinasi non-bahari agar mampu bersaing dan memberikan pilihan variatif bagi pelancong.

Kepala Bidang Pemasaran Disbudpar Berau, Fitriansyah, menjelaskan, upaya promosi wisata darat sejatinya telah dilakukan secara masif melalui berbagai lini.

Salah satunya adalah pemanfaatan teknologi videotron di sejumlah titik strategis di Tanjung Redeb. 

Selain itu, promosi juga merambah media cetak, digital, hingga media elektronik yang menyasar kantong-kantong wisatawan nasional serta pintu masuk utama turis ke Indonesia, seperti Bali, Yogyakarta, dan Surabaya.

Bupati Berau Sri Juniarsih saat mengunjungi Destinasi wisata Danau Nyandeng di Kampung Merabu, Kelay, Berau (Ist)
Bupati Berau Sri Juniarsih saat mengunjungi Destinasi wisata Danau Nyandeng di Kampung Merabu, Kelay, Berau (Ist)

Pendekatan tatap muka juga tidak dilupakan. Melalui pameran di luar daerah, tim promosi berupaya menjaring wisatawan potensial secara langsung. 

Dalam materi visual seperti videotron, Disbudpar menampilkan berbagai petualangan menarik, mulai dari eksotisme Karst Merabu, pengamatan orang utan, hingga kekayaan wisata kuliner di berbagai kecamatan.

“Mungkin di antaranya juga kami mempromosikan Ancur Paddas sebagai kuliner khas Kabupaten Berau. Itu salah satu contoh misalnya kan, itu kita buatkan dalam bentuk cetak,” ungkap Fitriansyah kepada Berauterkini, Selasa (3/3/2026).

Potensi daratan lainnya yang terus didorong adalah atraksi budaya dan olahraga air tradisional dalam rangka Hari Ulang Tahun Berau, seperti Baturunan Parau dan lomba perahu panjang. 

Semua agenda ini dikemas rapi dalam bentuk konten digital maupun materi cetak. 

Menurut Fitriansyah, memperkuat wisata darat tidak bisa hanya mengandalkan keunikan objek wisatanya.

Namun, harus didukung dengan penyelenggaraan acara-acara besar yang mampu memikat perhatian khalayak.

“Kita juga harus menciptakan atau memperbanyak event-event penunjang. Jadi kalau tanpa adanya event juga orang tentu tidak cukup tertarik,” tambahnya.

Meski demikian, terdapat pengecualian bagi objek wisata keluarga yang sudah menjadi primadona, seperti Labuan Cermin, Danau Tulung Ni Lenggo, dan wisata air panas Pemapak.

Destinasi-destinasi tersebut saat ini mengalami peningkatan signifikan dalam hal penataan sarana dan prasarana.

Wisata air panas Pemapak di Biatan, misalnya, kini telah menjadi salah satu fokus utama materi promosi kedinasan.

Disbudpar menegaskan komitmennya untuk tidak menganaktirikan potensi daratan.

“Yang jelas wisata darat itu kita dongkrak juga, bukan hanya wisata bawah laut,” tegas Fitriansyah.

Kendati wisata pulau seperti Derawan, Maratua, hingga kawasan pesisir Biduk-biduk tetap menjadi wajah utama pariwisata Kalimantan Timur, penguatan wisata darat dianggap krusial untuk menciptakan ekosistem pariwisata yang berkelanjutan.

“Kita kalau dalam hal promosi tidak meninggalkan wisata darat,” tutupnya. (*)