BERAU TERKINI – Banjir besar yang melanda berbagai wilayah di Sumatera, yang diiringi gelondongan kayu dari hulu hutan yang rusak, harus menjadi alarm waspada bagi Kabupaten Berau.
Meskipun bencana air di bantaran Sungai Kelay dan Segah dianggap “fenomena biasa” oleh warga setempat, frekuensi dan skala kejadian ekstrem di Berau belakangan ini menunjukkan adanya perubahan serius pada kapasitas lingkungan.
“Ini sebenarnya banjir tahunan. Dan warga di sana sudah biasa dengan itu. Di bulan-bulan yang curah hujan tinggi disertai fenomena banjir rob,” kata Kepala Pelaksana BPBD Berau, Masyhadi Muhdi, Jumat (12/12/2025).
Meski begitu, ada beberapa kejadian banjir yang diluar perkiraan. Bahkan, pada 2025, terjadi dua kali fenomena banjir cukup besar, yakni pada sekitar April dan Mei.
Dalam dua kejadian itu, tinggi air meningkat lebih signifikan akibat fenomena klimatologis, di mana ada siklon berputar di atas Sungai Kelay dan Segah.
Hujan ekstrem yang terjadi dalam durasi lama membuat kapasitas lingkungan tidak mampu menampung debit air yang besar.
Dalam kejadian itu terdapat beberapa korban jiwa, ratusan hektar lahan pertanian rusak, ternak warga banyak dan hilang.
BPBD Berau terus menjalin komunikasi intens dengan BMKG Stasiun Tampung Merasa.
Ketika ketinggian air mencapai 20 meter di atas permukaan laut, status siaga langsung diberlakukan.
“Kalau sudah siaga, kami informasikan ke camat untuk diteruskan ke kepala kampung di sekitar bantaran sungai, terutama kalau di hulu masih hujan,” ujarnya.
Pemantauan pun dilakukan setiap hari. Selain membuat laporan rutin, BPBD juga menurunkan tim ke lapangan, termasuk saat mendampingi Wakil Bupati meninjau beberapa titik terdampak.
“Warga sebenarnya sudah terbiasa kalau ketinggiannya masih pada level itu. Rata-rata rumah panggung, meski ada beberapa yang tetap terendam,” jelasnya.
Selain Kelay dan Segah, banjir juga kerap melanda sejumlah kecamatan lain.
Potensi terbesar berada di Kecamatan Kelay yang alirannya turun ke Sambaliung, Teluk Bayur, hingga Gunung Tabur.
“Suaran juga mulai terdampak kalau hujan besar. Bidukbiduk dan Teluk Sumbang juga rawan karena kawasan belakangnya merupakan daerah pegunungan,” jelasnya.
Menanggapi kekhawatiran masyarakat bahwa banjir di Berau bisa menyamai skala besar seperti di Sumatera, BPBD menyebutkan, risiko tersebut kecil berdasarkan kajian yang tersedia. Namun, perubahan tutupan hutan menjadi faktor yang harus diwaspadai.
Dia juga mengaku, pihaknya belum mengkaji tutupan lahan secara detail di hulu Kelay dan Segah.
Namun, bisa dikatakan, hampir setiap tahun terjadi pembukaan lahan untuk perkebunan, baik di dalam maupun luar kawasan.
“Termasuk yang dibuka oleh masyarakat sendiri. Ini jadi perhatian dan sebenarnya menjadi tanggung jawab bersama,” katanya.
BPBD menegaskan, penanganan bencana adalah tanggung jawab bersama berbasis kolaborasi pentahelix, yakni pemerintah, masyarakat, dunia usaha, media, dan perguruan tinggi.
Bahkan, di tiap kecamatan ada posko yang menangani kebakaran pemukiman, hutan, dan lahan, termasuk banjir dan longsor.
Berau, kata dia, memiliki potensi bencana cukup tinggi, mulai banjir, longsor, kebakaran lahan, cuaca ekstrem, hingga abrasi sungai.
“Karena itu, kami imbau warga bantaran sungai untuk tidak menebang pohon yang berfungsi menahan kikisan arus dan resapan air,” ucapnya.
Meski banjir besar dinilai kecil, BPBD mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada, terutama saat hujan ekstrem berlangsung lebih dari empat jam.
“Kalau sudah ada siklon yang berputar di hulu Segah dan Kelay, dan hujan turun terus, risikonya tetap ada. Kami terus memantau dan menyampaikan peringatan dini ke wilayah-wilayah rawan,” tegasnya. (*)
