BERAU TERKINI – Kampung Tumbit Dayak, Kecamatan Sambaliung, kini menghadapi ancaman rutin di mana banjir besar dilaporkan terus terjadi setiap tahun dalam empat tahun terakhir.
Kepala Kampung Tumbit Dayak, Ahmad Jamlan, memastikan, sejak 2022-2025, peristiwa banjir berskala besar tidak pernah absen melanda wilayahnya.
“Kalau dihitung dari empat tahun terakhir ini, banjir besar itu ada terus setiap tahun. Pasti sekali dalam setahun,” kata Jamlan.
Banjir di Tumbit Dayak terbagi menjadi dua pola. Pola pertama adalah banjir genangan rutin yang umumnya terjadi pada rentang waktu Desember hingga Maret.
Skalanya relatif kecil, hanya berupa genangan air di wilayah pinggir sungai dan dataran rendah.
“Biasanya dari bulan 12 sampai bulan 3 itu sering banjir, tapi paling naik di pinggir-pinggir saja,” katanya.
Pola kedua adalah banjir skala besar, yang merupakan kejadian paling diwaspadai.
Banjir dengan skala yang sangat besar hanya terjadi satu kali dalam setahun, umumnya memuncak pada bulan Maret, April, atau Mei.
Setelah kejadian ekstrem tersebut, kondisi cenderung kembali normal dan air tidak berulang dalam waktu dekat.
“Kalau yang besar betul itu, paling sekali saja. Setelah itu tidak lagi,” jelasnya.
Terkait banjir yang terjadi menjelang akhir 2025, Jamlan memastikan ketinggian air belum mencapai tingkat kritis.
Muka air masih jauh di bawah level ekstrem tahun sebelumnya.
“Yang bulan 12 ini belum besar seperti kemarin. Masih jauh. Kurang lebih satu meter lagi baru seperti yang dulu,” ungkapnya.
Meskipun demikian, ia menegaskan, pola banjir besar yang terjadi secara rutin setiap tahun tetap menjadi perhatian serius dan prioritas mitigasi bagi pemerintah kampung.
Peran Krusial BMKG Berau
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Berau terus memperkuat perannya sebagai garda terdepan dalam mitigasi bencana yang dipicu oleh cuaca ekstrem di wilayah tersebut.
Kepala BMKG Berau, Ade Heryadi, menjelaskan, timnya bekerja tanpa henti melakukan pemantauan cuaca secara komprehensif setiap hari.
Tujuannya memastikan informasi yang disalurkan kepada masyarakat dan pemerintah daerah selalu akurat dan tepat waktu.
BMKG Berau memanfaatkan berbagai instrumen canggih untuk mengumpulkan data, mulai dari peralatan ukur cuaca otomatis dan konvensional, citra radar cuaca, hingga citra satelit dari seluruh wilayah Indonesia.
“Melalui analisis ini, kami bisa mengidentifikasi potensi hujan lebat, cuaca ekstrem, angin kencang, hingga kondisi yang dapat memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang, dan tanah longsor,” jelas Ade.
Seluruh data tersebut diolah untuk menghasilkan prakiraan cuaca harian, termasuk informasi curah hujan jangka pendek maupun jangka panjang.
Sebagai langkah mitigasi langsung, BMKG Berau secara rutin menerbitkan peringatan dini cuaca, memperbarui citra radar secara berkala, dan mengeluarkan prediksi nowcasting (prakiraan saat ini) segera setelah indikasi cuaca ekstrem terdeteksi.
Informasi kritis ini disalurkan melalui berbagai kanal untuk memastikan langkah antisipasi dapat segera dilakukan sebelum dampak terjadi.
Kanal-kanal tersebut meliputi media sosial resmi BMKG Berau, kanal resmi pemerintah daerah, website, hingga komunikasi langsung dengan instansi terkait kebencanaan.
Tidak hanya fokus pada cuaca harian, BMKG Pusat juga menyediakan informasi iklim jangka panjang seperti prakiraan musim, anomali curah hujan, serta potensi El Nino dan La Nina.
“Data ini sangat penting bagi sektor pertanian, penerbangan, perikanan, hingga lembaga kebencanaan, dalam menentukan langkah mitigasi,” imbuhnya.
Ade memastikan, secara keseluruhan, BMKG berperan memastikan bahwa informasi cuaca yang diterima masyarakat dan pemerintah bersifat akurat, cepat, dan relevan.
“Dengan demikian, risiko dan dampak bencana hidrometeorologi, dapat ditekan semaksimal mungkin,” pungkasnya. (*)
