BERAU TERKINI – Warga Kampung Teluk Sumbang masih melestarikan warisan leluhur yakni anyaman rotan, kini anyaman juga jadi pendapatan warga.

Di Kampung Teluk Sumbang, Kecamatan Biduk-Biduk, anyaman rotan bukan sekadar kerajinan tangan. Ia adalah warisan turun-temurun yang kini tumbuh menjadi sumber penghasilan tambahan bagi masyarakat, terutama kaum perempuan.

Perwakilan Kelompok Anyaman Rotan Teluk Sumbang, Anugrah menuturkan, aktivitas menganyam telah menjadi bagian dari keseharian warga. Beragam produk dihasilkan, mulai dari kursi, meja, hingga tas rotan dengan berbagai ukuran dan model, menyesuaikan pesanan konsumen.

“Kita sekarang lagi proses kursi rotan. Selain itu ada meja dan tas rotan, ukurannya ada besar, sedang, sampai kecil. Modelnya tergantung pesanan,” ujar Anugrah pada Berauterkini.co.id

Meski berbasis kerajinan tradisional, kelompok ini terus berupaya mengikuti perkembangan zaman. Mereka ingin produk anyaman Teluk Sumbang mampu bersaing dengan produk modern, bahkan hasil pabrikan dari luar daerah.

“Kita berusaha supaya produk kampung kita bisa bersaing dengan yang dari luar. Harapannya bisa dikenal, bukan cuma di Berau atau Kalimantan Timur, tapi kalau bisa sampai nasional,” katanya.

Anyaman Rotan Teluk Sumbang, Berau (Ist)
Anyaman Rotan Teluk Sumbang, Berau (Ist)

Kerajinan rotan di Teluk Sumbang sejatinya telah ada sejak lama. Namun, pengembangannya secara penghasilan baru benar-benar terasa dalam lima tahun terakhir.

Sebelumnya, keterampilan menganyam hanya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari oleh orang tua terdahulu.

“Kalau buat kerajinannya sudah dari dulu, dari orang-orang tua. Tapi kalau untuk dijual dan dikembangkan, kira-kira lima tahun belakangan ini,” jelas Anugrah.

Keunggulan lainnya, bahan baku rotan masih melimpah karena tumbuh alami di hutan sekitar kampung.

Ketua Dekranasda Berau, Edy Suswanto, memberikan bantuan peralatan kepada kelompok perajin di tiga kecamatan, Jumat (23/1/2026).
Ketua Dekranasda Berau, Edy Suswanto, memberikan bantuan peralatan kepada kelompok perajin di tiga kecamatan, Jumat (23/1/2026).

Proses produksinya pun masih tradisional, mulai dari pengambilan rotan, pengeringan, pembelahan, perautan hingga pewarnaan, sebelum akhirnya dianyam menjadi produk siap pakai.

“Ibu-ibu di kampung hampir setiap hari menganyam. Ini memang kebanyakan dikerjakan ibu rumah tangga dan anak-anak gadis, karena sudah diajarkan turun-temurun,” tambahnya.

Meski sebagian besar warga berprofesi sebagai petani, kerajinan rotan menjadi penopang ekonomi keluarga. Saat para suami bekerja di kebun, para istri tetap bisa menghasilkan pendapatan dari rumah.

Untuk pemasaran, produk anyaman rotan Teluk Sumbang saat ini masih dijual melalui pemesanan langsung dan kelompok PKK kampung.

Harga produk bervariasi, mulai dari Rp80 ribu hingga Rp500 ribu, tergantung ukuran dan tingkat kerumitan. Tas rotan menjadi produk paling diminati, dengan harga yang relatif terjangkau dan desain yang fleksibel.

Dukungan pemerintah daerah pun dirasakan langsung oleh para pengrajin. Anugrah mengaku, kunjungan dan bantuan dari Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) memberikan dorongan besar bagi kelompoknya.

“Kami sangat berterima kasih. Apa yang kami sampaikan disambut baik, kami diberi bantuan dan juga dukungan moral. Itu jadi semangat buat kami,” tandasnya.(*)