BERAU TERKINI – Pengelola destinasi wisata didorong bisa berinovasi dan mandiri di tengah keterbatasan anggaran yang dimiliki oleh Disbudpar Berau.
Penurunan anggaran yang dialami Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau pada tahun 2026 menjadi tantangan tersendiri bagi keberlanjutan sektor pariwisata daerah.
Meski demikian, kondisi ini justru dijadikan momentum untuk mendorong kemandirian dan kreativitas pengelola destinasi wisata.
Tahun anggaran 2026, Disbudpar Berau hanya memperoleh alokasi anggaran sebesar Rp44.876.163.430,50.
Angka ini turun cukup tajam dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp68.157.582.975,98, serta lebih rendah dari anggaran tahun 2024 sebesar Rp56.596.236.263.
Plt Sekretaris Disbudpar Berau, Samsiah Nawir, mengakui bahwa penurunan anggaran tersebut berdampak langsung pada penyesuaian program kerja yang telah disusun.
Beberapa target dan kegiatan terpaksa disederhanakan agar tetap dapat berjalan sesuai dengan kemampuan keuangan daerah.
“Dengan kondisi anggaran seperti ini, tentu kami harus realistis. Beberapa target harus diminimalisir, tapi semangat pengembangan pariwisata tidak boleh surut,” ujarnya pada Berauterkini.co.id
Lanjutnya, dari total anggaran tersebut, Rp11.980.336.075 dialokasikan untuk kegiatan rutin Disbudpar, Rp3.971.727.084 untuk Bidang Kebudayaan, dan Rp28.924.100.470,50 untuk Bidang Pariwisata.
“Untuk bidang Pariwisata itu ada 3 bidang, Pemasaran dan Kerjasama Pariwisata, Usaha Jasa Pariwisata dan Pengembangan Destinasi Pariwisata,” jelasnya.

Samsiah menegaskan, keterbatasan anggaran seharusnya tidak membuat pengelola destinasi wisata bergantung penuh pada pemerintah daerah.
Destinasi yang amenitasnya telah dibangun diminta mulai mengoptimalkan fasilitas yang ada dan mengembangkan skema pengelolaan mandiri.
Ia mencontohkan destinasi Batu-Batu yang telah dilengkapi plaza kuliner, dermaga wisata, serta aktivitas susur sungai.
Fasilitas tersebut dinilai sudah cukup menjadi modal awal untuk menghasilkan pendapatan melalui pengelolaan yang lebih aktif, termasuk penerapan retribusi.
“Yang sudah dibangun itu harus dihidupkan. Jangan sampai fasilitas ada, tapi tidak dimaksimalkan. Ke depan, pengelola harus mulai mandiri,” tegasnya.
Di tengah keterbatasan anggaran, pihaknya berharap lahir inovasi baru dari para pengelola destinasi wisata.
“Semoga keadaan ini menjadi pemicu tumbuhnya kreativitas dan kolaborasi untuk menjaga pariwisata Berau tetap bergerak dan berkelanjutan,” tutupnya.
