BERAU TERKINI – Warna merah menyala dan kuning terang yang menghiasi aneka jajanan berbuka puasa di Pasar Ramadan Masjid Agung Baitul Hikmah dipastikan aman untuk dikonsumsi.
Kepastian ini didapat setelah Dinas Kesehatan Berau bersama Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Samarinda melakukan pengawasan terpadu dengan menyasar makanan dan minuman yang memiliki tampilan warna tidak wajar.
Pejabat Fungsional Pengawas Farmasi dan Makanan Ahli Muda BBPOM Samarinda, Akhmad Kamaluddin, menjelaskan, indikasi visual yang tidak wajar menjadi langkah awal petugas dalam menentukan target pemeriksaan.
Menurutnya, deteksi dini melalui mata sangat penting sebelum dilakukan pengujian laboratorium yang lebih mendalam.
“Jika secara tampilan ada yang mencurigakan, seperti warna terlalu mencolok, kami langsung ambil sampel untuk diuji. Ini sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan penggunaan bahan kimia berbahaya,” ujar Kamaluddin saat memantau lokasi.

Proses pengujian tersebut dilakukan secara langsung di tempat menggunakan mobil laboratorium keliling milik Dinas Kesehatan Berau.
Di bawah arahan Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan (SDK), Sitti Zakiah, tim melakukan uji cepat terhadap 18 sampel makanan yang diambil dari dua lokasi berbeda.
Rinciannya, 11 sampel dari Pasar Ramadan Masjid Agung dan 7 sampel dari titik pasar Ramadan lainnya di wilayah Berau.
Kabar baiknya, hasil pemeriksaan menunjukkan seluruh sampel dinyatakan memenuhi standar keamanan pangan.
Petugas tidak menemukan sedikit pun kandungan zat berbahaya, seperti Rhodamin B, Methanil Yellow, boraks, maupun formalin.
Empat bahan kimia tersebut sangat dilarang dalam pangan karena risiko kesehatannya yang fatal.
“Alhamdulillah, semua sampel memenuhi standar keamanan pangan. Ini menandakan kesadaran pedagang semakin baik,” terang Sitti Zakiah.
Meski hasil pengujian nihil zat berbahaya, petugas tetap memberikan edukasi intensif kepada para pedagang.
Mereka diingatkan kembali mengenai jenis pewarna makanan yang diizinkan serta pentingnya menjaga higienitas selama proses produksi hingga penjualan berlangsung.
Langkah ini diambil agar kepercayaan konsumen terhadap kuliner lokal tetap terjaga selama bulan suci.
“Pengawasan akan terus dilakukan hingga akhir Ramadan. Kami harus memastikan bahwa yang tampak menarik di mata tetap aman saat dikonsumsi masyarakat,” pungkasnya. (*)
