TANJUNG REDEB – Blending antara biji kopi Arabica dan Robusta menjadi produk unggulan dari roastery Ada Kopi di Berau, Kaltim.

Di tengah tren global yang semakin mengedepankan specialty coffee dan biji kopi tunggal (single origin), coffee shop di Berau justru mengambil pendekatan berbeda.

Seperti halnya Roastery Ada Kopi yang justru memadukan antara Arabica dan Robusta. Roastery Ada Kopi sendiri adalah produsen biji kopi lokal yang berbasis di Berau, Kalimantan Timur.

Didirikan oleh sekelompok pegiat kopi lokal, Ada Kopi yang berlokasi di Jalan Cempaka II, Kelurahan Gayam, Tanjung Redeb, Berau ini berkomitmen untuk mendukung pertanian berkelanjutan, memberdayakan petani kopi lokal, serta menghadirkan produk kopi berkualitas tinggi dengan cita rasa khas daerah.

Menurut Manager Ada Kopi (Speciality Coffee Indonesia and Roastery), Bagus Yuban Muzamil, campuran antara Arabica dan Robusta bukan sekadar soal selera, tetapi strategi yang berakar dari karakter konsumen lokal, kekuatan produk, hingga kelestarian pertanian kopi di daerah tersebut.

Proses blending biji kopi campuran Arabica dan Robusta di Ada Kopi (Nadya Zahira/BT)
Proses blending biji kopi Arabica dan Robusta di Ada Kopi (Nadya Zahira/BT)

“Memang Karakteristik peminum kopi di Berau sangat unik. Di mana, mereka ini suka kopi yang kuat, berisi, tetapi juga punya aroma yang kompleks. Campuran Arabica dan Robusta memberi mereka keduanya,” ujar Bagus Yuban Muzamil, Senin (25/8/2025).

Bagus menerangkan bahwa biji kopi Arabica dikenal memiliki rasa asam yang lebih kompleks dan aroma yang lembut, sementara Robusta menawarkan kekuatan rasa pahit, kadar kafein tinggi, dan body yang tebal.

Di tangan roaster yang tepat, kombinasi keduanya menciptakan secangkir kopi yang tak hanya nikmat, tapi juga menggugah rasa penasaran.

“Campuran ini kami sebut sebagai Blend Berau. Ini bukan sekadar racikan, tapi refleksi dari identitas rasa masyarakat sini. Dan sebagian besar coffee shop di Berau, yang membeli biji kopinya di kami, mereka menggunakan biji kopi campuran antara Arabica dan Robusta, yang mana perbandingannya 50:50,” jelasnya.

Strategi Ekonomi untuk Dukung Petani Lokal

Lebih dari sekadar urusan rasa, Bagus menekankan bahwa penggunaan biji campuran yang dilakukan sejumlah coffee shop di Berau juga punya dampak sosial dan ekonomi yang signifikan.

Terlelbih, di Berau, para petani kopi tidak hanya menanam satu jenis kopi. Kondisi geografis dan ketinggian yang bervariasi memungkinkan petani membudidayakan baik Arabica maupun Robusta.

“Kalau para coffee shop hanya menggunakan Arabica, petani Robusta tidak terangkat. Begitu juga sebaliknya. Dengan mencampur, maka mereka memeberi ruang bagi semua jenis petani kopi untuk terlibat dalam rantai pasok. Tapi biji kopi liberika yang ditanam di Berau, juga mulai diminati oleh kalangan barista dan kafe-kafe di Berau,” terangnya.

Dia menuturkan bahwa pedekatan ini juga membantu menjaga stabilitas harga. Saat harga Arabica naik tajam di pasar global, campuran dengan Robusta membantu menyeimbangkan biaya produksi. Sebaliknya, saat Robusta melimpah, permintaan tetap tinggi karena menjadi bagian dari blend yang laris di pasar lokal.

Menurut Bagus, salah satu tantangan terbesar dalam industri kopi lokal adalah menjaga konsistensi rasa dari waktu ke waktu. Kondisi panen yang berubah-ubah, cuaca yang tidak menentu, dan kualitas pasca panen yang bervariasi membuat cita rasa kopi bisa berfluktuasi.

“Dengan mencampur Arabica dan Robusta, tentu bisa menyeimbangkan variabel tersebut. Kalau Arabica tahun ini terlalu asam, kita seimbangkan dengan Robusta yang lebih earthy. Tujuannya bukan untuk menutupi kekurangan, tapi untuk mempertahankan karakter khas kopi Berau,” kata Bagus.

Selain itu, ia bilang, teknik blend juga memungkinkan coffee shop memiliki signature taste yang khas dan tidak mudah ditiru.

“Apalagi konsumen sekarang tidak hanya cari kopi enak, tapi juga ingin rasa yang konsisten dan bisa dikenali. Campuran ini jadi semacam DNA rasa untuk coffee shop di sini,” ujarnya.

Bagian dari Identitas Kopi Nusantara

Indonesia dikenal sebagai negeri seribu rasa kopi. Dari Aceh hingga Papua, setiap daerah punya karakteristik biji kopi yang berbeda. Di tengah keragaman itu, Bagus Yuban Muzamil menilai bahwa pendekatan blend justru memperkuat identitas kopi daerah.

“Kalau Italia punya espresso blend, dan Vietnam terkenal dengan robusta-nya, kenapa Berau tidak bisa punya kopi campuran sendiri yang mewakili daerah?” katanya mantap.

Ia juga menambahkan, penggunaan campuran Arabica dan Robusta bukan berarti mengorbankan kualitas. Justru, ketika diproses dengan benar, mulai dari petik, sortasi, fermentasi, hingga sangrai, campuran tersebut bisa menghasilkan kopi berkualitas tinggi yang bisa bersaing di pasar nasional maupun internasional.

Lebih lanjut, dia menilai bahwa penggunaan biji kopi campuran Arabica dan Robusta oleh coffee shop di Berau, juga merupakan strategi cerdas yang mempertimbangkan aspek rasa, efisiensi, dan adaptasi terhadap selera lokal.

Biji kopi produksi Ada Kopi
Biji kopi produksi Ada Kopi (Nadya Zahira/BT)

“Ini menunjukkan bahwa perkembangan dunia kopi di Berau tidak hanya soal mengikuti tren, tetapi juga tentang bagaimana para pelaku industri mampu membaca kebutuhan pasar dan menciptakan pengalaman minum kopi yang menyenangkan dan berkesan,” jelasnya.

Bagi Bagus, masa depan kopi Berau terletak pada keberanian untuk menemukan jati diri sendiri, bukan meniru tren luar negeri secara mentah-mentah. “Kopi terbaik bukan yang paling mahal, tapi yang paling dekat dengan identitas kita,” ucapnya.

Ia berharap ke depan, lebih banyak coffee shop dan pelaku industri kopi di Kalimantan Timur yang mengapresiasi potensi campuran lokal. “Kalau semua berlomba bikin kopi seperti di Jakarta atau luar negeri, kita akan kehilangan keunikan kita sendiri,” pungkasnya.