TANJUNG REDEB – Dinding pemecah ombak dan penahan abrasi pantai di Kampung Teluk Sulaiman, Kecamatan Biduk-Biduk, telah dibangun.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur mengucurkan anggaran senilai Rp4 miliar untuk membangun dinding sepanjang 165 meter persis di bibir pantai tersebut.

Sebaran kawasan yang terancam abrasi di Kabupaten Berau mencapai 29,30 kilometer dengan kondisi kritis sepanjang 12 kilometer.

Saat ini, yang telah tertangani dari ancaman abrasi baru 2,2 kilometer. Kondisi ini membuat Berau menjadi daerah paling kritis dari ancaman abrasi di Kaltim.

Gubernur Kaltim, Rudy Mas’ud, mengatakan, pihaknya akan serius menyelesaikan persoalan lokasi kritis dari abrasi.

“Akan kami benahi dengan tindakan preventif,” kata pria yang akrab disapa Harum usai kunjungan ke destinasi wisata Labuan Cermin, Biduk-Biduk, Selasa (15/7/2025).

Sebagai alternatif, Harum mendorong program penanaman pohon mangrove hingga bakau di sepanjang kawasan pantai Biduk-Biduk.

Menurutnya, program tersebut lebih hemat anggaran daripada membangun pemecah ombak yang sangat mahal untuk bisa menutupi seluruh titik kritis abrasi di pantai Bumi Batiwakkal.

Mangrove dianggap lebih efektif menahan laju ombak menuju pantai saat ombak besar datang.

Selain itu, mangrove juga dapat menjadi tempat biota laut, seperti ikan, udang dan kepiting berkembang biak, sehingga dapat dinikmati warga kampung.

“Ekosistem tetap baik, lautnya hijau dengan bakau dan mangrove,” ungkapnya.

Harum menegaskan, pemerintah tidak akan mengubah masterplan penanganan pantai. Hanya saja, akan dicari model pemecah ombak yang lebih efektif untuk menahan abrasi.

“Kita cari model yang sama seperti pantai di Jakarta dan Balikpapan,” terangnya. 

Sementara itu, Bupati Berau, Sri Juniarsih, menegaskan, dari hasil koordinasi bersama Harum, pola penanganan abrasi akan dicoba untuk lebih disempurnakan, termasuk membuat program penanaman mangrove dan bakau.

Dia menyatakan, saat ini pembangunan jalan dan dinding penahan ombak menjadi agenda prioritas yang mesti mendapatkan perhatian dari Pemprov Kaltim.

“Semoga kita dapat bankeu (bantuan keuangan) lebih besar ke depan untuk membangun ini,” harap dia.

Kepala Kampung Giring-Giring, Sarlina, menambahkan, setiap tahunnya, pemerintah kampung telah aktif menanam mangrove di Teluk Sulaiman.

Kegiatan tersebut diharapkan akan lebih masif bila bibit hingga tenaga aktif dapat diterjunkan untuk menanam mangrove.

Dia berharap, ke depan dinding pemecah ombak dapat dilanjutkan di sepanjang pantai Biduk-Biduk. (*/Adv)