BERAU TERKINI – Nasib memprihatinkan dialami nelayan budidaya kerapu di Pulau Maratua, Kabupaten Berau.
Selama tiga tahun terakhir, mereka mengaku kesulitan mendapatkan pembeli untuk hasil budidaya.
Kondisi ini membuat nelayan terpaksa mematikan ikan yang telah dipelihara dan menjualnya sebagai ikan campuran dengan nilai jual yang tidak sebanding dengan biaya serta waktu pemeliharaan.
Nelayan budidaya asal Maratua, Suandi, mengungkapkan, tidak adanya pembeli membuat hasil budidaya yang selama ini menjadi sumber penghidupan mereka sulit dipasarkan.
Padahal, proses budidaya membutuhkan modal, tenaga, serta waktu yang tidak sedikit hingga ikan siap panen.
“Ya, terpaksa kami matikan ikannya, ditimbang sebagai ikan campuran,” ungkap Suandi.
Menurutnya, kondisi tersebut telah berlangsung selama kurang lebih tiga tahun.

Selama itu pula, nelayan harus menghadapi ketidakpastian pemasaran, meskipun telah berupaya mengembangkan usaha budidaya sebagai sumber penghasilan.
Situasi ini menjadi ironi bagi nelayan yang telah beralih ke sektor budidaya.
Di tengah upaya mencari penghidupan yang lebih berkelanjutan, mereka justru dihadapkan pada persoalan mendasar, yakni tidak tersedianya pasar yang mampu menyerap hasil produksi.
Kepala Kampung Payung-Payung, Rico, turut menyoroti kondisi tersebut dan meminta pemerintah lebih peka terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat, khususnya nelayan budidaya di wilayah kepulauan.
Menurutnya, pemerintah tidak seharusnya hanya menunggu laporan, tetapi perlu turun langsung untuk melihat kondisi masyarakat di lapangan.
Ia menilai, persoalan yang dialami nelayan harus menjadi perhatian serius agar upaya masyarakat mengembangkan budidaya tidak berakhir dengan kerugian berkepanjangan.
Terlebih, kondisi ini dinilai berbanding terbalik dengan pemberitaan sebelumnya yang menggambarkan perkembangan sektor perikanan dan upaya nelayan dalam menjalankan usaha budidaya.
Keprihatinan juga muncul terhadap keberlanjutan pilihan mata pencaharian nelayan.
Jika usaha budidaya tidak memberikan kepastian pendapatan akibat sulitnya pemasaran, bukan tidak mungkin sebagian nelayan kembali mempertimbangkan aktivitas penangkapan ikan di laut.
“Kasihan nelayan yang sudah beralih ke budidaya. Saya meyakini ilegal fishing akan marak kembali jika hal ini terus terjadi,” ujarnya.
