BERAU TERKINI — Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Berau kembali menjadi sorotan serius. 

Kepala UPT Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Berau, Yusran, mengungkapkan data mencengangkan. Sepanjang 2025, pihaknya telah menangani 64 kasus kekerasan. 

Jumlah tersebut dinilai sangat tinggi dan harus menjadi alarm bagi seluruh elemen masyarakat.

“Ini harus menjadi perhatian serius. Kasus-kasus ini tidak bisa dianggap biasa, karena dampaknya sangat besar terhadap korban,” tegas Yusran.

Menurutnya, angka tersebut menunjukkan bahwa perempuan dan anak merupakan kelompok rentan menghadapi ancaman kekerasan di lingkungan terdekat mereka. 

Bentuk kekerasan yang ditangani pun beragam, mulai dari kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), kekerasan seksual, hingga penelantaran yang melibatkan anak.

Kondisi ini semakin mengkhawatirkan karena sebagian besar kasus terjadi di lingkup keluarga.

“Bisa dilihat dalam beberapa kasus yang ditangani aparat, itu banyak pelakunya keluarga sendiri. Ini yang bikin ironis,” jelasnya.

Yusran menilai, situasi tersebut menjadi indikator lingkungan sosial belum sepenuhnya aman dan masih banyak korban yang membutuhkan perlindungan.

Ia menegaskan, perlunya kerja sama terpadu antara aparat kepolisian, pemerintah daerah, tenaga pendamping, tokoh masyarakat, serta lembaga perlindungan untuk memutus mata rantai kekerasan.

“Kami tetap rutin melakukan diskusi dalam menekan kasus ini. Karena hal ini memang perhatian serius bagi daerah dan aparat kepolisian. Kerja sama harus terus diperkuat,” tambahnya.

Yusran berharap, meningkatnya laporan bukan hanya mencerminkan tingginya jumlah kasus.

Tetapi juga meningkatnya keberanian korban untuk berbicara. 

Meski begitu, langkah pencegahan harus digalakkan secara serius dan berkelanjutan.

“Kami ingin memastikan perempuan dan anak di Berau dapat hidup aman. Semua pihak harus terlibat agar ke depan, kasus kekerasan bisa benar-benar ditekan, bahkan dicegah,” pungkasnya. (*)