TANJUNG REDEB – Berikut ini rangkuman berita mengenai cuaca panas yang terjadi di Berau dalam sepekan terakhir.
Cuaca panas terjadi di wilayah Berau, Kaltim dalam sepekan terakhir.
Suhu maksimum bahkan sempat menyentuh 36,4 derajat Celcius pada hari Minggu (27/7/2025) lalu.
Pihak BMKG Berau menyampaikan sejumlah penyebab cuaca panas di Berau Kaltim.
Dirangkum Berauterkini.co.id berikut ini sejumlah hal yang diketahui dari cuaca panas di Berau.
Posisi Matahari di Belahan Bumi Utara
Kepala BMKG Berau, Ade Heryadi, menjelaskan, ada tiga penyebab utama meningkatnya suhu udara di Bumi Batiwakkal, yakni matahari tepat di atas Berau, langit cerah dan awan menghilang, hingga kemarau mulai tiba.
Menurutnya, fenomena ini bukan sekadar akibat cuaca biasa, melainkan didorong oleh kombinasi faktor astronomis dan atmosferis yang terjadi secara bersamaan.
“Makanya, tiga hari ke belakang ini suhu maksimum 34,8-36,4 derajat celcius,” katanya, Selasa (29/7/2025).

Ade mengatakan, posisi semu matahari sedang berada di belahan bumi utara.
Karena letak geografis Berau juga berada di utara garis khatulistiwa, maka sudut datang sinar matahari menjadi lebih tegak lurus ke permukaan tanah.
“Semakin tegak sudut datang sinar matahari, semakin besar pula energi panas yang diterima permukaan bumi. Ini membuat suhu terasa jauh lebih panas dari biasanya,” ujar Ade.
Minim Tutupan Awan
Tak hanya posisi matahari, minimnya tutupan awan juga berperan besar dalam memicu peningkatan suhu.
Awan yang biasanya berfungsi seperti selimut alami, memantulkan sinar matahari dan menyerap radiasi panas bumi kini hampir tak terlihat di langit Berau.
“Karena tidak ada penghalang, panas matahari langsung menghantam permukaan bumi. Ini menyebabkan suhu siang hari cepat melonjak,” jelasnya.

BMKG Berau juga mencatat wilayah Berau mulai memasuki awal musim kemarau. Kondisi ini ditandai dengan turunnya curah hujan, langit yang lebih cerah, dan kelembaban udara yang rendah.Berau tourism
“Udara kering lebih cepat menyerap panas dibanding udara lembab. Itulah kenapa meski angin sepoi-sepoi terasa, tetap saja panasnya menempel di kulit,” tambah Ade.
77 Titik Hotspot
BMKG Berau mencatat berdasarkan pengamatan Stasiun Meteorologi Kalimarau, terdapat 77 titik panas atau hotspot yang tersebar di wilayah Berau pada Selasa (29/7/2025) kemarin.
Dari 77 titik panas itu, Kecamatan Pulau Derawan dan Kelay menjadi daerah dengan sebaran hotspot terbanyak.
Pihak BMKG mengimbau warga Berau untuk menghindari pembakaran lahan, melakukan pembakaran sampah dan tetap menggunakan pelindung diri saat beraktivitas di luar ruangan pada siang hari.
Bupati Berau Ingatkan Potensi Karhutla
Cuaca panas hingga 36,4 derajat Celcius yang terjadi di Berau menjadi peringatan potensi terjadinya bencana kebakaran hutan dan lahan atau Karhutla.
Peringatan itu disampaikan Bupati Berau, Sri Juniarsih, kala menghadiri pertemuan bersama para pejabat daerah dalam membahas penyusunan dokumen kontingensi penanggulangan bencana banjir di Kantor Bupati Berau, Selasa (29/7/2025).

Dia mengatakan, cuaca panas dengan suhu tersebut membuat Berau menjadi daerah terpanas di Indonesia saat ini.
Kondisi ini dikhawatirkan akan merembet ke bencana karhutla. Hal itu belajar pada masa kepemimpinan Bupati Berau 2015-2020 Muharram dalam penanganan karhutla yang menemui banyak tantangan.
Selain dedaunan kering yang sensitif terhadap asap dan api, tanah yang gersang pun berpotensi menyala lebih lama di lahan yang terbakar.
Situasi tersebut membuat pemerintah saat itu kewalahan mengatasi persoalan karhutla. Belum lagi perilaku oknum nakal yang dengan sengaja melakukan pembakaran hutan.
“Kita harus waspada dengan kondisi ini,” ujarnya.
Berdampak ke Ekonomi
Bupati Berau Sri Juniarsih juga menyatakan dampak karhutla bisa sampai pada potensi terjadinya kelumpuhan ekonomi daerah.
Aktivitas impor maupun ekspor barang akan terhambat lantaran pesawat tak akan diperbolehkan terbang. Pun akan melemahkan aktivitas penumpang di Bandara Kalimarau.
“Ekonomi kita bisa lumpuh,” bebernya.
Oleh karenanya, dia meminta seluruh pihak untuk saling bekerja sama dalam menjaga hutan agar tak terbakar.
Selain itu, saling membantu dan mengingatkan agar tak melakukan pembakaran hutan untuk perkebunan saat ini.
Dia khawatir, satu titik api nantinya akan merembet pada lahan yang tak menjadi target penanaman bibit perkebunan maupun pertanian.
“Masyarakat silakan beri peringatan agar oknum-oknum ini tak membakar lahan,” pesan dia.
Peran masyarakat tersebut akan meringankan tugas BPBD Berau dalam mengatasi kebakaran hutan. Termasuk masyarakat sadar api yang saat ini telah aktif di setiap kampung.
“Karena yang dirugikan itu kita semua,” tegasnya.
