BERAU TERKINI — Setelah melampaui 46 jam proses pencarian yang melelahkan, upaya tim gabungan untuk menemukan Rahmat (10) akhirnya membuahkan hasil.
Bocah malang asal Kabupaten Bulungan yang dilaporkan hilang saat berenang di Pantai Ulingan, Kecamatan Pulau Derawan, ditemukan pada Selasa (7/4/2026) sekitar pukul 10.00 WITA.
Sebelumnya, Rahmat dinyatakan hilang terseret arus pada Minggu sore (5/4/2026) sekitar pukul 14.00 WITA.
Sejak saat itu, tim penyelamat terus berjibaku menyisir perairan hingga kawasan hutan bakau demi menemukan keberadaan korban.

Kabid Pemadaman dan Penyelamatan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Berau, Nofian Hidayat, mengungkapkan, posisi penemuan korban sudah cukup jauh dari titik awal kejadian.
Jasad korban ditemukan mengapung oleh tim yang melakukan penyisiran di area perairan terbuka.
“Jarak korban ditemukan kurang lebih 2 mil dari lokasi kejadian. Saat ditemukan, kondisi korban sudah meninggal dunia,” ujar Nofian.
Segera setelah dipastikan identitasnya, tim gabungan langsung melakukan prosedur evakuasi terhadap jenazah korban.
Jasad Rahmat dibawa menggunakan kantong jenazah menuju puskesmas terdekat untuk menjalani pemeriksaan medis sebelum akhirnya diserahkan secara resmi kepada pihak keluarga yang telah menunggu di lokasi.
“Langsung dibawa tim ke puskesmas menggunakan kantong jenazah,” jelas Nofian.
Dengan ditemukannya korban, operasi pencarian berskala besar di Pantai Ulingan ini pun resmi dihentikan.
Nofian menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh unsur yang terlibat, mulai dari Tim SAR, TNI-Polri, PMI, BPBD, hingga masyarakat setempat yang tidak kenal lelah membantu proses pencarian di lapangan.
Tragedi ini menjadi pengingat keras bagi para pelancong yang membawa anak-anak saat berwisata di kawasan perairan.
Nofian mengimbau kepada seluruh orang tua agar lebih meningkatkan kewaspadaan dan pengawasan ketat, mengingat risiko keselamatan di kawasan wisata laut bisa berubah sewaktu-waktu.
Diharapkan, kesadaran akan keselamatan mandiri dapat mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang.
Pengawasan yang tidak terputus adalah kunci utama untuk meminimalisasi risiko bahaya saat beraktivitas di alam terbuka.
“Lebih ketat lagi melakukan pengawasan, paling tidak mengurangi risiko hal yang berbahaya. Semoga kejadian seperti ini tidak terjadi lagi,” pungkasnya. (*)

