TANJUNG REDEB – Sebanyak 34 insiden kebakaran permukiman terjadi sepanjang 6 bulan pertama 2025. Di balik angka itu, tersimpan kisah kehilangan, luka, dan tangis yang belum tentu pulih dalam waktu dekat. 

Jumlah itu tersebar di berbagai wilayah di Kabupaten Berau. Kerugiannya mencapai belasan miliar rupiah dan 1 balita turut jadi korban.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Berau Masyhadi melalui Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, Nofian Hidayat, mengatakan, jumlah tersebut cukup banyak dan sangat merugikan masyarakat.

Dari catatan pihaknya, dari 34 kejadian itu, total 104 bangunan yang terdampak, baik rumah yang rusak berat maupun rusak ringan.

“Musibah kebakaran itu juga mengakibatkan 110 kepala keluarga kehilangan tempat tinggal. Dan yang paling menyayat hati, satu korban jiwa adalah seorang balita berusia dua tahun,” katanya, Selasa (29/7/2025).

Balita itu tewas terpanggang saat tidur di sebuah pondok sederhana yang terbakar di Kampung Biatan Ilir, Kecamatan Biatan, Minggu (27/7).

Tragedi itu menjadi pengingat paling kelam dari deretan musibah yang terjadi.

Selain korban meninggal, kebakaran tersebut mengakibatkan kerugian yang cukup fantastis. Ada pula tiga warga yang terluka dalam berbagai kejadian serupa.

Dari total kebakaran selama 6 bulan terakhir, pihaknya menaksir kerugian yang diderita korban mencapai belasan miliar rupiah.

“Perkiraan kami Rp18,5 miliar total semua kerugian kebakaran,” jelasnya.

Kebakaran hebat yang cukup melekat di ingatan yakni peristiwa di Jalan Milono, RT 12 Kelurahan Gayam, Kecamatan Tanjung Redeb, pada 26 Januari lalu. Sebanyak 23 bangunan mengalami kerusakan berat dan 22 kepala keluarga kehilangan tempat tinggal. 

“Kemudian masih di Jalan Milono, tepatnya di RT 11 dan 12 di Kelurahan Gayam, sebanyak 10 bangunan hangus terbakar dan 35 kepala keluarga kehilangan tempat tinggal pada 21 Februari lalu,” ujarnya.

Dirinya menyebut, jumlah itu hampir mendekati angka peristiwa kebakaran pemukiman pada 2024 yang mencapai 40 kejadian dengan korban jiwa 1 orang di Kecamatan Batu Putih.

Meski begitu, Nofian berharap, jumlah kebakaran permukiman tidak lagi bertambah hingga tahun berganti. 

Untuk itu, dirinya meminta kepada seluruh masyarakat untuk lebih berhati-hati ketika hendak meninggalkan rumah dalam keadaan kosong.

“Lebih waspada lagi. Periksa semua instalasi listrik dan dapur sebelum ditinggalkan. Minta tetangga untuk memantau kondisi rumah agar ketika terjadi apa-apa dapat segera mencari bantuan,” ujarnya.

Di balik data dan angka, kebakaran bukan sekadar peristiwa. Ia adalah luka kolektif yang meninggalkan trauma. Kadang, duka yang tak tergantikan. (*)