Selain Covid DBD Wajib Diwaspadai, Hingga Kini Sudah 30 Kasus Ditemukan.

  • Whatsapp

Foto: Salah satu pasien DBD yang menjalani perawatan di RSUD Abdul Rivai Tanjung Redeb.

TANJUNG REDEB,- Demam Berdarah Dengue (DBD) perlu mendapat perhatian ditengah pandemi Covid-19 saat ini. Mengingat penyakit ini merupakan salah satu penyakit menular yang juga banyak menimbulkan korban jiwa jika lambat ditangani. Untuk Kabupaten Berau, terhitungan sejak  Januari hingga awal Februari 2022 cukup tinggi.

Bacaan Lainnya

Jumlah itu bahkan mendekati kasus yang terjadi pada Oktober hingga Desember 2021 yang berjumlah 33 kasus. Mayoritas yang tertular adalah anak-anak. Humas RSUD dr Abdul Rivai, dr Erva Anggriana  saat ini, sektor kesehatan sedang fokus penanganan Covid-19, yang menjadikan layanan kasus DBD berkurang.

“Dari data kami dari tri wulan akhir 2021 hingga 4 februari ada 63 kasus. Itu yang dirawat di RSUD, tidak termasuk di puskesmas lain. Dengan kondisi seperti ini, maka masyarakat diharapkan lebih siap untuk melakukan tindakan pencegahan,” terangnya, Senin (07/02/2022).

Meskipun tidak ada korban meninggal, namun tetap saja penularan virus tersebut sangat berbahaya. Sebab, apabila penanganan dilakukan lambat, bisa menyebabkan kematian.

“Tidak boleh disepelekan penyakit ini. Karena, sama bahayanya dengan pandemik Cocid-19,” terangnya.

Untuk mengantisipasi berkembangnya jentik nyamuk di sekitar rumah, pernah ada ada program satu rumah satu juru pemantau jentik (jumantik), yang dilakukan secara rutin oleh puskesmas.

Fokus pada Covid menyebabkan  masyarakat tidak menyadari lagi untuk melakukan kebiasaan melakukan tindakan menguras, menutup dan mengubur (3M), terhadap kemungkinan-kemungkinan yang menjadi sarang nyamuk berkembang biak.

“Padahal itu menjadi kunci penting. Mau tidak mau, mestinya masyarakat tetap harus melakukan. Karena faktor lingkungan sangat mempengaruhi penyebaran nyamuk pembawa DBD ini,” tuturnya.

Kasus DBD ini sebenarnya setiap waktu selalu ada. Data DBD akan semakin tinggi terjadi pada awal-awal musim hujan dan akhir musim hujan.

Secara umum nyamuk Aedes Aegypti senang tinggal di air yang relatif jernih, utamanya di bak-bak mandi di rumah. Karenanya sepanjang tahun nyamuk ini selalu ada sehingga penularannya juga sepanjang tahun, tetapi peningkatan paling tajam di awal dan akhir musim penghujan.

Adanya kemungkinan peningkatan kasus DBD harus diantisipasi dan menjadi perhatian masyarakat.Apalagi di Berau, kondisi cuaca bulan Desember 2021 hingga sekarang, masih selalu ada hujan dan sangat memungkinkan menimbulkan banyak genangan air.

Untuk dirinya meminta kepada masyarakat ataupun anaknya yang merasa memiliki gejala demam tinggi dapat segera memeriksakan ke fasilitas kesehatan terdekat atau rumah sakit.  (*)

Pos terkait