PPKM Level 4 Diperpanjang, Pengusaha Hotel dan Restoran Putar Otak Tekan Kerugian

  • Whatsapp

TANJUNG REDEB-Dampak PPKM Level 4 yang diperpanjang hingga 2 Agustus mendatang membuat pengusaha hotel dan restoran di Kabupaten Berau harus memutar otak agar usahanya tetap berjalan.

Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Berau, Yozzy mengaku, sepinya pengunjung membuat penghasilan pengusaha hotel dan restoran di Bumi Batiwakkal terus merosot.

Bacaan Lainnya

“Tentu rugi banyak,” ungkap Yozzy, Selasa, 27 Juli 2021.

Kendati Yozzy tidak terlalu berkomentar terkait permasalahan hotel, namun untuk restoran ia mengaku, banyak keluhan dari para pemilik usaha. Sehingga harus memutar otak untuk memikirkan cara agar resto di Berau tetap hidup.

“Rugi sekali tentunya. Saya rasa keputusan yang diberikan pemerintah tidak seharusnya diberlakukan di 13 Kecamatan,” bebernya.

Ia menuturkan, pemerintah masih terlalu abu-abu untuk memberikan batasan tertentu sebab, di masing-masing kecamatan kondisinya berbeda sekali.

“Saya kira semua peraturan itu dipertimbangkan sesuai kondisi, daripada harus serentak dengan peraturan yang sama,” tegasnya.

Sementara itu, Sekretaris Harian PHRI Berau, Dede Anugrah yang juga menjadi General Manager Grand Parama Hotel, menjelaskan kondisi hotel saat ini masih harus bekerja keras.

“Iya, ada penurunan okupansi rerata hotel-hotel di Berau sebanyak 50 persen. Yang tidak bisa bertahan terpaksa masih ada yang tutup,” jelasnya.

Saat ini, diakui Dede, permintaan kamar memang cenderung ada, tetapi bagi mereka yang menginginkan untuk isoman setelah perjalanan. Tentu menurut Dede, hal ini susah, karena tidak semua hotel bisa menerima pasien isoman.

“Tidak ada fasilitas pemerintah yang menjamin dan kami tidak mau mengambil risiko,” paparnya.

Ia menuturkan, stigma masyarakat, apabila hotel tersebut telah menerima pasien isoman, tentu akan jelek, masyarakat tentu khawatir jika masih tertinggal virus tersebut di hotel. Ia menilai, tidak semua masyarakat paham akan situasi ini.

“Kalau hotel-hotel yang masih sanggup survive pasti tidak mau menerima pasien isoman, karena berisiko sekali,” ungkapnya.

Menurut Dede, saat ini pemerintah jika tidak memfasilitasi untuk hotel, lebih baik memberikan kesempatan pada sejumlah rumah makan untuk bekerja sama.

“Ya misalkan rumah makan, sampai PKL itu saling sinergi lah, direkrut untuk katering untuk isoman pasien, kan lebih terbantu,” pungkasnya. (*)

Editor: Bobby Lalowang

Pos terkait