BERAU TERKINI – Pemerintah Kabupaten Berau mendistribusikan 10 unit mobil pikap pengangkut sampah dan satu unit mesin pencacah sampah kepada 10 kelurahan di wilayah pusat kota.

Penambahan kendaraan operasional dan alat penunjang ini diharapkan menjadi jawaban atas pekerjaan rumah besar pemerintah dalam menangani masalah sampah di area perkotaan.

Bupati Berau, Sri Juniarsih, menyatakan, pengadaan kendaraan tersebut sangat krusial mengingat tingkat kepadatan penduduk Berau yang kini telah melampaui 300 ribu jiwa. 

Pertumbuhan populasi yang pesat dipastikan meningkatkan produksi sampah rumah tangga setiap harinya. 

Jika tidak ditangani dengan cepat dan sistematis, Berau dikhawatirkan akan terjebak dalam fase krisis sampah yang terus meningkat setiap tahun. 

“Ini sesuai dengan kebutuhan,” kata Sri Juniarsih, Senin (5/1/2026).

Selain memperkuat sarana di tingkat kelurahan, pemerintah daerah juga tengah fokus mengawal proses relokasi Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Bujangga menuju lokasi baru di Kampung Pegat Bukur. 

Saat ini, lahan TPA Pegat Bukur sedang dalam tahap pematangan. 

Pemerintah menargetkan fasilitas tersebut sudah bisa difungsikan sebelum RSUD Tanjung Redeb mulai beroperasi. 

“Semoga dalam waktu dekat ini sudah bisa diaktifkan,” harapnya.

Dengan sistem pengelolaan sampah yang semakin modern, Sri Juniarsih menaruh harapan besar agar Berau dapat kembali mengulang sejarah dengan meraih penghargaan Adipura. 

Penghargaan ini menjadi prestise tersendiri bagi daerah yang dinilai berhasil mengolah sampah mulai dari hulu di tingkat rumah tangga hingga ke hilir di TPA.

Namun, tantangan meraih Adipura tidaklah ringan karena terdapat indikator ketat dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH).

Beberapa syarat utama meliputi kondisi TPA yang wajib menerapkan sistem sanitary landfill atau minimal controlled landfill, adanya sistem penanganan air lindi dan gas metan, serta ketersediaan ruang terbuka hijau yang cukup. 

Lebih dari itu, peran aktif masyarakat dalam mengoperasikan bank sampah dan memilah sampah dari rumah menjadi poin penilaian yang sangat krusial.

“Tidak muluk-muluk, minimal tahun ini kita bisa jadi kandidat,” ucap Sri Juniarsih.

Ia juga berpesan kepada seluruh dinas terkait dan lapisan masyarakat agar mulai membudayakan praktik zero waste. 

Baginya, Adipura tidak akan tercapai tanpa kesadaran kolektif dari semua pihak.

Lebih dari sekadar mengejar piala, Sri Juniarsih menekankan bahwa tujuan akhirnya adalah menciptakan lingkungan yang bersih sebagai identitas daerah.

“Gaya hidup sehat yang terpenting bisa membudaya di lingkungan kita,” tutupnya. (*)